BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Selaput
ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dankorion yang sangat
erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti selepitel, sel
mesenkim dan sel trofoblast yang terikat erat dalam metrics kolagen.Selaput
ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin
terhadapinfeksi.
Air
ketuban, atau cairan amnion, adalah cairan yang terdapat dalam ruangan yang
diliputi selaput janin. Bobot
jenis cairan ini sekitar 1.080.Makin tua kehamilan, makin turun berat jenisnya,
hingga menjadi 1.025-1.010.Air
ketuban berfungsi antara lain untuk:
a) Sebagai pelindung yang akan menahan
janin dari trauma akibat benturan.
Melindungi dan mencegah
tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga
menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.
b)
Berperan
sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.
c)
Memungkinkan
janin bergerak lebih bebas, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan
tulang rangka, serta sistem pernapasan janin agar berkembang dengan baik.
d)
Menjadi
inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin.
e)
Selaput
ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim
terhadap kemungkinan infeksi.
f)
Pada
waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam
rahim, sehingga leher rahim membuka.
g)
saat
kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan
jalan lahir.
h)
Pada
saat kehamilan, air ketuban juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang
dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom.
Kandungan
lemak dalam air ketuban dapat menjadi penanda janin sudah matang atau lewat
waktu. Komposisi Cairan
Amnion Terdiri dari 98%
air 2. Bahan padat lain 2% yang terdiri dari :
Elektrolit,
derifat protein (kreatinin, ureum, dan asam urat), glukosa, lemak, dan lemak
protein (fosfolipid dan kolesterol).Hormon (HCG, Hpl, Estrogen, Progesteron, Prolaktin).Enzim (seluruh enzim dalam tubuh
manusia).Pigmen
( bilirubin pada awal kehamilan yang akan menghilang saat hepar menjadi matang). Bahan-bahan dari janin seperti
rambut, verniks.Dalam
keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan.
Ketuban pecah dini adalah keadaan
pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.Bila ketuban pecah dini terjadi
sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan
premature.Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami
ketuban pecah dini. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan Ketuban pecah dini preterm terjadi
1% dari semua kehamilan. 70% kasus Ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan
cukup bulan. Ketuban pecah dini merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak
30%.
Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan
perubahan proses biokimia yang terjadi dalam kolagenmatriks eksta seluler
amnion, korion, dan apoptosis membrane janin. Membrane janin dan desidua
bereaksi terhadap stimuli, seprti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan
memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein
hormone.Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Ketuban pecah
dini merupakan suatu masalah yang harus mendapatkan penanganan yang sesuai
dengan prosedur agar tidak terjadi komplikasi yang tidak diinginkan. Penanganan
segera pada ketuban pecah dini yaitu dengan pemberian antibiotik dan segera
lakukan induksi persalinan jika umur kehamilan sudah aterm tapi jika belum
aterm (prematur) pertahankan. Asuhan ini dilaksanakan dengan tujuan agar janin
dan ibu bisa menjalani proses persalinan dengan normal dan tanpa adanya
komplikasi. Pada proses persalinan ini membutuhkan asuhan yang optimal dan dukungan
dari semua pihak khususnya keluarga dan penolong yang terampil agar proses
persalinan berjalan dengan lancar, bayi dan ibu sehat sehingga dapat menurunkan
adanya morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi.
B. Rumusan masalah
1.
Apa pengertian ketuban pecah dini ?
2.
Apa etiologi dari ketuban pecah dini ?
3.
Bagaimana fatofisiologi dari ketuban pecah dini ?
4.
Faktor apa saja yang mempengaruhi ketuban pecah dini?
5.
Bagaimana tanda dan gejala ketuban pecah dini ?
6.
Bagaimana pemeriksaan penunjang dari ketuban pecah dini ?
7.
Bagaimana Penatalaksanaan Ketuban
Pecah Dini ?
8.
Bagaimana komplikasi Ketuban Pecah Dini ?
9.
Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Ketuban pecah
dini ?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian ketuban pecah dini ?
2.
Untuk mengetahui etiologi dari ketuban pecah dini ?
3.
Untuk mengetahui fatofisiologi dari ketuban pecah dini ?
4.
Untuk mengetahui Faktor yang mempengaruhi ketuban pecah
dini ?
5.
Untuk mengetahui tanda dan gejala ketuban pecah dini ?
6.
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari ketuban pecah
dini ?
7.
Untuk mengetahui Penatalaksanaan pada Ketuban Pecah Dini ?
8.
Untuk mengetahui komplikasi pada Ketuban Pecah Dini ?
9.
Untuk mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan dari
Ketuban pecah dini ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengertian Ketuban Pecah Dini menurut WHO yaitu Rupture of the
membranes Before theon setoflabour.
Hacker (2001) mendefinisikan Ketuban
Pecah Dini sebagai Amnioreksis sebelum
permulaan persalinan pada setiap tahap kehamilan. Sedangkan Mochtar(1998)
mengatakan bahwa Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya Ketuban sebelum
inpartu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 Cm dan pada multipara
kurang dari 5cm.
Hakimi (2003) mendefinisikan Ketuban
Pecah Dini sebagai ketuban yang pecah spontan
1jam atau lebih sebelum Dimulainya persalinan.
Ketuban pecah dini (KPD)
didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini
dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan.
Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah
dini (Sarwono, 2008).
Pengertian Ketuban Pecah Dini
adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat
terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu (Cunningham, Mc.
Donald, gant, 2002).
Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya
membrane ketuban sebelum persalinan berlangsung (Manuaba, 2002)
B.
Etiologi
Penyebab Ketuban pecah
dini adalah karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan
intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan
oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu
ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya
adalah sebagai berikut :
1.
Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah
untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang
terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan
karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.Adalah serviks
dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkanlaserasi sebelumnya melalui
ostium uteri atau merupakan suatu kelainan congenital pada serviks yang
memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihantanpa perasaan nyeri dan mules dalam
masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan
penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba,
2002).
2.
Peninggian tekanan inta uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi
atau meningkat secara berlebihandapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah
dini. Misalnya :
a.
Trauma
: Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b.
Gemelli: Suatu kehamilan dua janin atau lebih
Pada kehamilan gemelli terjadi
distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim
secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang
lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian
bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan
mudah pecah. (Saifudin. 2002)
c.
Makrosomia: berat badan neonatus >4000 gram
Kehamilan
dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi
dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput
ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan
membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.
(Winkjosastro, 2006).
d.
Hidramnion: jumlah cairan amnion >2000Ml
Uterus
dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis
adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur.
Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami
distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja
3.
Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4.
Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo
pelvic
disproporsi).
5. Korioamnionitis : infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh
penyebaran organisme vagina ke atas. Dua factor
predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan
persalinan lama.
6. Penyakit Infeksi : penyakit yang disebabkan oleh
sejumlah mikroorganisme yangmeyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang
terjadi menyebabkanterjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam
bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7.
Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan
genetik)
8.
Riwayat Ketuban Pecah Dini sebelumya
9.
Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10. Serviks (leher rahim) yang
pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
C. Fatofisiologi
Banyak teori, mulai
dari defect kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar
kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
Infeksi dan inflamasi dapat
menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi uterus dan atau
kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak mikroorganisme servikovaginal,
menghasilkan fosfolifid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara local asam
arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan
selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium. Pada infeksi juga di hasilkan
produk sekresi akibat aktivitas monosit atau makrofag, yaitu sitokrin,
interleukin 1, factor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating
factor yang di produksi oleh paru - paru janin dan ginjal janin yang ditemukan
dalam cairan amnion, secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin.
Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan merasangsang sel-sel
disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan
dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme
lain terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim
bacterial dan atau produk host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi
dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban. Banyak flora
servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi protease
dan kolagenase yang menurukan kekuatan tenaga kulit ketuban. Elastase leukosit
polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen tipe III papa manusia,
membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang terjadi karena
kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen tipe III
dan menyebabkan ketuban pecah dini.
Enzim hidrolitik lain, termasuk katepsin B, katepsin N, kolagenase yang
dihasilkan netrofil dan makrofag, nampaknya melemahkan kulit ketuban. Sel
inflamasi manusia juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin, potensial
menjadi penyebab ketuban pecah..
Jika ada infeksi dan inflamasi,
terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase
jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion,
menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Skema
fatofisiologi ketuban pecah dini :
Ketuban pecah dini
D. Faktor – faktor yang mempengaruhi
Ketuban Pecah Dini
Menurut
Morgan (2009), Kejadian Pecah Dini (KPD) dapat disebabkan oleh beberapa faktor
meliputi :
a.
Usia
Karakteristik
pada ibu berdasarkan usia sangat berpengaruh terhadap kesiapan ibu selama kehamilan maupun
menghadapi persalinan (Julianti, 2001). Usia untuk reproduksi optimal bagi
seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun. Di bawah atau di atas usia tersebut
akan meningkatkan resiko kehamilan dan persalinan (Depkes, 2003). Usia
seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi sistem reproduksi, karena
organ-organ reproduksinya sudah mulai berkurang kemampuannya dan keelastisannya
dalam menerima kehamilan.
b.
Sosial
ekonomi (Pendapatan)
Pendapatan
merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas kesehatan di suatu
keluarga. Pendapatan biasanya berupa uang yang mempengaruhi seseorang dalam
memenuhi kehidupan hidupnya. Pendapatan yang meningkat tidak merupakan kondisi
yang menunjang bagi terlaksananya status kesehatan seseorang. Rendahnya
pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi
fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan (BPS, 2005).
c.
Paritas
Paritas
adalah banyaknya anak yang dilahirkan oleh ibu dari anak pertama sampai dengan
anak terakhir. Adapun pembagian paritas yaitu primipara, multipara, dan grande
multipara. Primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali melahirkan
dimana janin mancapai usia kehamilan 28 minggu atau lebih. Multipara adalah
seorang wanita yang telah mengalami kehamilan dengan usia. kehamilan minimal 28
minggu dan telah melahirkan buah kehamilanya 2 kali atau lebih. Sedangkan
grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami hamil dengan usia
kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilannya lebih dari 5
kali (Wikjosastro, 2007). Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan pernah
mengalami Ketuban Pecah Dini pada kehamilan sebelumnya serta
jarak kelahiran yang terlampau dekat diyakini lebih beresiko akan mengalami Ketuban
Pecah Dini pada kehamilan berikutnya (Helen,
2008).
d.
Anemia
Anemia
pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Jika persediaan zat
besi minimal, maka setiap kehamilan akan mengurangi persediaan zat besi tubuh
dan akhirnya menimbulkan anemia. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena
darah ibu hamil mengalami hemodelusi atau pengenceran dengan peningkatan volume
30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Pada ibu
hamil yang mengalami anemia biasanya ditemukan ciri-ciri lemas, pucat, cepat
lelah, mata berkunang-kunang. Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali
selama kehamilan yaitu pada trimester pertama dan trimester ke tiga.
Dampak
anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intrauterin,
prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah infeksi. Pada
ibu, saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas,
ancaman dekompensasikordis dan ketuban
pecah dini. Pada saat persalinan
dapat mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan post partum
karena atonia uteri (Manuaba, 2009). Menurut Depkes RI (2005), bahwa anemia
berdasarkan hasil pemeriksaan dapat digolongkan menjadi (1) HB >
11 gr %, tidak anemia, (2) 9-10 gr
% anemia sedang, (3) < 8 gr % anemia berat.
e.
Perilaku
Merokok
Kebiasaan
merokok atau lingkungan dengan rokok yang intensitas tinggi dapat berpengaruh
pada kondisi ibu hamil. Rokok mengandung lebih dari 2.500 zat kimia yang
teridentifikasi termasuk karbonmonoksida, amonia, aseton, sianida hidrogen, dan
lain-lain. Merokok pada masa kehamilan dapat menyebabkan gangguangangguan
seperti kehamilan ektopik, ketuban pecah dini, dan resiko lahir mati yang lebih
tinggi (Sinclair, 2003).
f.
Riwayat
Ketuban Pecah Dini
Pengalaman
yang pernah dialami oleh ibu bersalin dengan kejadian Ketuban Pecah Dini dapat berpengaruh besar pada ibu
jika menghadapi kondisi kehamilan. Riwayat Ketuban Pecah Dini sebelumnya beresiko 2-4 kali
mengalami ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya Ketuban
Pecah Dini secara singkat ialah akibat
penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya ketuban
pecah dini dan ketuban pecah preterm. Wanita yang pernah mengalami Ketuban
Pecah Dini pada kehamilan atau menjelang
persalinan maka pada kehamilan berikutnya akan lebih
beresiko dari pada wanita yang
tidak pernah mengalami Ketuban Pecah Dini sebelumnya karena komposisi
membran yang menjadi rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada
kehamilan berikutnya (Helen, 2008).
g.
Serviks
yang inkompetensik
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut
kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan
lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu
menahan desakan janin yang semakin besar.
Inkompetensia
serviks adalah serviks
dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya
melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks yang
memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules
dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti
dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi
(Manuaba, 2009).
h.
Tekanan
intra uterm yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
Tekanan
intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini, misalnya :
1)
Trauma
berupa
hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
2)
Gemelli
Kehamilan
kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli terjadi
distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim
secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang
lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian
bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan
mudah pecah (Saifudin.2002).
E. Tanda dan gejala
1) keluarnya cairan ketuban merembes
melalui vagina.
Aroma
air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut
masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan
ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.
Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara.
2)
Demam
3)
Terdapat bercak
vagina yang banyak
4)
Nyeri
perut
5)
Denyut
jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
F. Pemeriksaan penunjang
a.
Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu
diperiksa warna, konsentrasi, bau dan PHnya.
1)
Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
,menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
2)
Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
b.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan
ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada
kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit (Manuaba, 2009)
G. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini
Penatalaksanaan
Ketuban Pecah Dini
memerlukan
pertimbangan usia kehamilan, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan
adanya tanda-tanda persalinan. Penanganan ketuban pecah dini menurut Sarwono
(2010), meliputi :
A.
Konserpatif
1)
Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu maupun
pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
2)
Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak tahan
ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
3)
Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar,
atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4)
Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes buss
negativ beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan
janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
5)
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
6)
Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi.
7)
Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra
uterin).
8)
Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap
minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari,
deksametason IM 5 mg setiap 6
jam
sebanyak 4 kali.
B.
Aktif
1) Kehamilan >37 minggu, induksi
dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol
50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2) Bila ada tanda-tanda infeksi
berikan antibiotika dosis tinggi. Dan persalinan diakhiri.
3) Bila skor pelvik < 5, lakukan
pematangan servik, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan
dengan seksio sesarea
4) Bila skor pelvik > 5, induksi
persalinan, partus pervaginam Penatalaksanaan KPD menurut Manuaba (2009)
tentang.
penatalaksanaan KPD adalah :
a. Mempertahankan kehamilan sampai
cukup bulan khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan
perkembangan paru yang sehat.
b. Terjadi infeksi dalam rahim,
yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, maningitis janin, dan
persalinan prematuritas.
c. Dengan perkiraan janin sudah
cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat
diberikan kortikosteroid,
sehingga kematangan paru janin
dapat terjamin.
d. Pada umur kehamilan 24-32 minggu
yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk
melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat
diselamatkan.
e. Menghadapi KPD, diperlukan
penjelasan terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa
tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu
dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
f. Pemeriksaan yang penting
dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melakukan
aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru.
g. Waktu terminasi pada kehamilan
aterm dapat dianjurkan selang waktu 6-24 jam bila tidak terjadi his spontan.
H. Komplikasi Ketuban Pecah Dini
1.
Terhadap Janin
Walaupun ibu belum
menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi,
karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi (amnionitis,vaskulitis) sebelum
gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan morrtalitas danmorbiditas
perinatal.
2.
Terhadap Ibu
Karena jalan telah
terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering
diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau nifas,
peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena
terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi
cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.
3. Terhadap kehamilan dan persalinan
• Dapat terjadi persalinan kapan saja,
terjadi kelahiran preterm.
• Abruption placenta, karena adanya penurunan
yang progresif pada permukaan intra uterin.
• Prolaps tali pusat dapat terjadi (sering
terjadi pada presentasi letak bokong atau letak lintang).
• Oligohydramnion, dry labor.
• Partus lama.
• Perdarahan pada`saat persalinan.
Komplikasi
yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat
terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena
kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya
persalinan normal.
a.
Persalinan
Prematur
Setelah
ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung
umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban
pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada
kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
b.
Infeksi
Risiko
infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi
Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis.
Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah
Dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden
infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
c.
Hipoksia
dan asfiksia
Dengan
pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi
asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan
derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
d.
Syndrom
deformitas janin
Ketuban Pecah Dini yang terjadi
terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan
kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1. Identitas ibu
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat,
suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah
sakit nomor register , dan diagnosa keperawatan.
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan
pecahnya ketuban sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa
komplikasi
b. Riwayat kesehatan terdahulu
- Adanya trauma sebelumnya akibat
efek pemeriksaan amnion.
- Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan
hubungan seksual
·
- Kehamilan ganda, polihidramnion
-
Infeksi
vagina/serviks oleh kuman streptokokus.
-
Selaput amnion
yang lemah/tipis.
-
Posisi fetus tidak
normal.
-
Kelainan pada otot
serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek.
- Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
c. Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya
keluhan ibu yang lain yang pernah hamil kembar/turunan kembar.
2.
Diagnosa keperawatan
1. Resiko infeksi b.d ketuban pecah dini.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d ketegangan ototrahim.
3. Defisit / kurang pengetahuan b.d pengakuan persalinan
premature.
4. Kecemasan / ansietas b.d persalinan premature dan
neonates berpotensi lahir premature.
3. Rencana Keperawatan
|
No
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan
dan kriteria hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Resiko
infeksi b.d ketuban pecah dini
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam di harapkan pasien tidak
menunjukan tanda-tanda infeksi . dengan criteria hasil :
·
Tanda-tanda
infeksi tidak tidak ada.
·
Tidak ada
lagi cairan ketuban yang keluar dari pervaginaan.
·
DJJ normal
·
Leukosit
pasien kembali normal
·
Suhu 36-37
|
·
Kaji
tanda-tanda infeksi.
·
Pantau
keadaan umum pasien
·
Bina
hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutic.
·
Berikan
lingkungan yang nyaman untuk pasien.
·
Kolaborasi
dengan dokter untuk memberikan obat antiseptik sesuai terapi.
|
·
Untuk
mengetahui tanda-tanda infeksi yang muncul.
·
Untuk
melihat perkembangan kesehatan pasien.
·
Untuk
memudahkan perawat melakukan tindakan.
·
Agar
istirahat pasien terpenuhi.
·
Untuk
proses penyembuhan pasien
|
|
2.
|
Gangguan
rasa nyaman : nyeri b.d ketegangan otot rahim.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam di harapkan nyeri
berkurang / nyeri hilang . dengan criteria hasil :
·
Tanda-tanda
vital dalam batas normal
·
TD :120/80
mm Hg
·
N : 60-120
X/ menit.
·
Pasien
tampak tenang/rileks.
·
Pasien
mengatakan nyeri pada perut berkurang.
|
·
Kali
tanda-tanda Vital pasien.
·
Kaji skala
nyeri (1-10)
·
Ajarkan
pasien teknik relaksasi
·
Atur
posisi pasien
·
Berikan
lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung.
|
·
Untuk
mengetahui keadaan umum pasien.
·
Untuk
mengetahui derajat nyeri pasien dan menentukan tindakan yang akan dilakukan.
·
Untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.
·
Untuk
memberikan rasa nyaman.
·
Untuk
mengurangi tingkat stress pasien dan pasien dapat beristirahat.
|
|
3.
|
Defisit /
kurang pengetahuan b.d pengakuan persalinan premature
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam di harapkan pasien
memahami pengetahuan tentang penyakitnya . dengan criteria hasil :
·
Pasien
terlihat tidak bingung lagi.
·
Pasien dapat memahami dan mau melakukan persalinan
premature
|
·
Kaji apa
pasien tahu tentang tanda-tanda dan gejala normal selama kehamilan.
·
Ajarkan
tentang apa yang harus dilakukan jika tanda KPD muncul kembali.
·
Libatkan
keluarga agar memantau kondisi pasien .
|
·
Untuk
mengetahui tentang pemahaman pasien untuk tindakan selanjutnya.
·
Mencegah
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi yang bisa membahayakan
ibu-janin.
·
Untuk
membantu merencanakan tindakan berikutnya.
|
|
4.
|
Kecemasan
/ ansietas b.d persalinan premature dan neonates berpotensi lahir premature
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam di harapkan ansietas
pasien teratasi. dengan criteria hasil :
·
Pasien
tidak cemas lagi
·
Pasien
sudah mengetahui tentang penyakit
|
·
Kaji
tingkat kecemasan pasien.
·
Dorong
pasien untuk istirahat total.
·
Berikan
suasana yang tenang dan ajarkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional
pasien.
|
·
Mengetahui
tingkatan kecemasan yang dialami pasien.
·
Untuk
mempercepat proses penyembuhan
·
Untuk
memberikan rasa nyaman dan menurunkan kecemasan pasien.
|
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemeriksaan dalam dengan jari
meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu dilakukan pada wanita dengan pecah
ketuban dini, karena ia akan diurussesuai kebutuhan persalinan sampai
persalinan terjadi atau timbul tanda dangejala korioamninitis. Jika timbul tanda
dan gejala korioamnionitis,diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan
dokter yang menanganiwanita guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan
metode persalinan(melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi,
presentasi dan beratkorioamnionitis.
B. Saran
Ketuban
Pecah Dini dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dan keluarganya. Bidan harus
membantu wanita mengeksplorasi rasa takut yang menyertai perkiraan kelahiran
janin premature serta risiko tambahan korioamnionitis. Rencana penatalaksanaan
yang melibatkan kemungkinan periode tirah baring dan hospitalisasi yang
memanjang harus didiskusikan dengan wanita dan keluarganya. Pemahaman dan kerja
sama keluarga merupakan hal yang penting untuk kelanjutan kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA
5.
https://mikimikiku.wordpress.com/2013/09/23/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-ketuban-pecah-dini-kpd/