Senin, 31 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan KPD



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dankorion yang sangat erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti selepitel, sel mesenkim dan sel trofoblast yang terikat erat dalam metrics kolagen.Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadapinfeksi.
Air ketuban, atau cairan amnion, adalah cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Bobot jenis cairan ini sekitar 1.080.Makin tua kehamilan, makin turun berat jenisnya, hingga menjadi 1.025-1.010.Air ketuban berfungsi antara lain untuk:
a)      Sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan.
Melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.
b)      Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.
c)      Memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan tulang rangka, serta sistem pernapasan janin agar berkembang dengan baik.
d)     Menjadi inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga kehangatan di sekitar janin.
e)      Selaput ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi.
f)       Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka.
g)      saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir.
h)      Pada saat kehamilan, air ketuban juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom.
Kandungan lemak dalam air ketuban dapat menjadi penanda janin sudah matang atau lewat waktu. Komposisi Cairan Amnion Terdiri dari 98% air 2. Bahan padat lain 2% yang terdiri dari :
Elektrolit, derifat protein (kreatinin, ureum, dan asam urat), glukosa, lemak, dan lemak protein (fosfolipid dan kolesterol).Hormon (HCG, Hpl, Estrogen, Progesteron, Prolaktin).Enzim (seluruh enzim dalam tubuh manusia).Pigmen ( bilirubin pada awal kehamilan yang akan menghilang saat hepar menjadi matang). Bahan-bahan dari janin seperti rambut, verniks.Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan.
            Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan premature.Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan Ketuban pecah dini preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus Ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan. Ketuban pecah dini merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
    Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam kolagenmatriks eksta seluler amnion, korion, dan apoptosis membrane janin. Membrane janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli, seprti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein hormone.Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Ketuban pecah dini merupakan suatu masalah yang harus mendapatkan penanganan yang sesuai dengan prosedur agar tidak terjadi komplikasi yang tidak diinginkan. Penanganan segera pada ketuban pecah dini yaitu dengan pemberian antibiotik dan segera lakukan induksi persalinan jika umur kehamilan sudah aterm tapi jika belum aterm (prematur) pertahankan. Asuhan ini dilaksanakan dengan tujuan agar janin dan ibu bisa menjalani proses persalinan dengan normal dan tanpa adanya komplikasi. Pada proses persalinan ini membutuhkan asuhan yang optimal dan dukungan dari semua pihak khususnya keluarga dan penolong yang terampil agar proses persalinan berjalan dengan lancar, bayi dan ibu sehat sehingga dapat menurunkan adanya morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi.

B.      Rumusan masalah
1.      Apa pengertian ketuban pecah dini ?
2.      Apa etiologi dari ketuban pecah dini ?
3.      Bagaimana fatofisiologi dari ketuban pecah dini ?
4.      Faktor apa saja yang mempengaruhi ketuban pecah dini?
5.      Bagaimana tanda dan gejala ketuban pecah dini ?
6.      Bagaimana pemeriksaan penunjang dari ketuban pecah dini ?
7.      Bagaimana Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini ?
8.      Bagaimana komplikasi Ketuban Pecah Dini ?
9.      Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Ketuban pecah dini ?

C.    Tujuan
1.        Untuk mengetahui pengertian ketuban pecah dini ?
2.        Untuk mengetahui etiologi dari ketuban pecah dini ?
3.        Untuk mengetahui fatofisiologi dari ketuban pecah dini ?
4.        Untuk mengetahui Faktor yang mempengaruhi ketuban pecah dini ?
5.        Untuk mengetahui tanda dan gejala ketuban pecah dini ?
6.        Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari ketuban pecah dini ?
7.        Untuk mengetahui Penatalaksanaan pada Ketuban Pecah Dini ?
8.        Untuk mengetahui komplikasi pada Ketuban Pecah Dini ?
9.        Untuk mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Ketuban pecah dini ?







BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian
Pengertian Ketuban Pecah Dini menurut WHO yaitu Rupture of the membranes Before theon setoflabour.
Hacker (2001) mendefinisikan Ketuban Pecah Dini sebagai Amnioreksis sebelum permulaan persalinan pada setiap tahap kehamilan. Sedangkan Mochtar(1998) mengatakan bahwa Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya Ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 Cm dan pada multipara kurang dari 5cm.
Hakimi (2003) mendefinisikan Ketuban Pecah Dini sebagai ketuban yang pecah spontan 1jam atau lebih sebelum Dimulainya persalinan.
Ketuban pecah dini (KPD) didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini (Sarwono, 2008).
Pengertian Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu (Cunningham, Mc. Donald, gant, 2002).
Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan berlangsung (Manuaba, 2002)

B.     Etiologi
Penyebab Ketuban pecah dini adalah karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :
1.  Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkanlaserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan congenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihantanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba, 2002).
2.  Peninggian tekanan inta uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihandapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a.       Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b.      Gemelli: Suatu kehamilan dua janin atau lebih
Pada kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah.  (Saifudin. 2002)
c.       Makrosomia:  berat badan neonatus >4000 gram
Kehamilan dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006).

d.      Hidramnion: jumlah cairan amnion >2000Ml
Uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja
3.  Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4.  Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic  
     disproporsi).
5. Korioamnionitis : infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama.
6. Penyakit Infeksi : penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yangmeyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkanterjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7.  Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)
8.  Riwayat Ketuban Pecah Dini sebelumya
9.  Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C.  Fatofisiologi
Banyak teori, mulai dari defect kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak mikroorganisme servikovaginal, menghasilkan fosfolifid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium. Pada infeksi juga di hasilkan produk sekresi akibat aktivitas monosit atau makrofag, yaitu sitokrin, interleukin 1, factor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang di produksi oleh paru - paru janin dan ginjal janin yang ditemukan dalam cairan amnion, secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan merasangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan dimulainya persalinan.
   Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim bacterial dan atau produk host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban. Banyak flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurukan kekuatan tenaga kulit ketuban. Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.
   Enzim hidrolitik lain, termasuk katepsin B, katepsin N, kolagenase yang dihasilkan netrofil dan makrofag, nampaknya melemahkan kulit ketuban. Sel inflamasi manusia juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah  plasminogen menjadi plasmin, potensial menjadi penyebab ketuban pecah..
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion, menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Skema fatofisiologi ketuban pecah dini :

Infeksi implamasi
Terjadi peningkatan Prostaglandin
Kolagenase jaringan
Depolimerasi kolagen pada selaput amion
Ketuban tipis,lemah,mudah pecah spontan
Ketuban pecah dini

D.  Faktor – faktor yang mempengaruhi Ketuban Pecah Dini
Menurut Morgan (2009), Kejadian Pecah Dini (KPD) dapat disebabkan oleh beberapa faktor meliputi :
a.       Usia
Karakteristik pada ibu berdasarkan usia sangat berpengaruh terhadap kesiapan ibu selama kehamilan maupun menghadapi persalinan (Julianti, 2001). Usia untuk reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun. Di bawah atau di atas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan dan persalinan (Depkes, 2003). Usia seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi sistem reproduksi, karena organ-organ reproduksinya sudah mulai berkurang kemampuannya dan keelastisannya dalam menerima kehamilan.

b.      Sosial ekonomi (Pendapatan)
Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas kesehatan di suatu keluarga. Pendapatan biasanya berupa uang yang mempengaruhi seseorang dalam memenuhi kehidupan hidupnya. Pendapatan yang meningkat tidak merupakan kondisi yang menunjang bagi terlaksananya status kesehatan seseorang. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan (BPS, 2005).

c.       Paritas
Paritas adalah banyaknya anak yang dilahirkan oleh ibu dari anak pertama sampai dengan anak terakhir. Adapun pembagian paritas yaitu primipara, multipara, dan grande multipara. Primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali melahirkan dimana janin mancapai usia kehamilan 28 minggu atau lebih. Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami kehamilan dengan usia. kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilanya 2 kali atau lebih. Sedangkan grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami hamil dengan usia kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilannya lebih dari 5 kali (Wikjosastro, 2007). Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan pernah mengalami Ketuban Pecah Dini pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang terlampau dekat diyakini lebih beresiko akan mengalami Ketuban Pecah Dini pada kehamilan berikutnya (Helen, 2008).



d.      Anemia
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Jika persediaan zat besi minimal, maka setiap kehamilan akan mengurangi persediaan zat besi tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodelusi atau pengenceran dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Pada ibu hamil yang mengalami anemia biasanya ditemukan ciri-ciri lemas, pucat, cepat lelah, mata berkunang-kunang. Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama dan trimester ke tiga.
Dampak anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intrauterin, prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah infeksi. Pada ibu, saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas, ancaman dekompensasikordis dan ketuban
pecah dini. Pada saat persalinan dapat mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri (Manuaba, 2009). Menurut Depkes RI (2005), bahwa anemia berdasarkan hasil pemeriksaan dapat digolongkan menjadi (1) HB >
11 gr %, tidak anemia, (2) 9-10 gr % anemia sedang, (3) < 8 gr % anemia berat.

e.       Perilaku Merokok
Kebiasaan merokok atau lingkungan dengan rokok yang intensitas tinggi dapat berpengaruh pada kondisi ibu hamil. Rokok mengandung lebih dari 2.500 zat kimia yang teridentifikasi termasuk karbonmonoksida, amonia, aseton, sianida hidrogen, dan lain-lain. Merokok pada masa kehamilan dapat menyebabkan gangguangangguan seperti kehamilan ektopik, ketuban pecah dini, dan resiko lahir mati yang lebih tinggi (Sinclair, 2003).

f.       Riwayat Ketuban Pecah Dini
Pengalaman yang pernah dialami oleh ibu bersalin dengan kejadian Ketuban Pecah  Dini dapat berpengaruh besar pada ibu jika menghadapi kondisi kehamilan. Riwayat Ketuban Pecah Dini sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya Ketuban Pecah Dini secara singkat ialah akibat penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah preterm. Wanita yang pernah mengalami Ketuban Pecah Dini pada kehamilan atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya akan lebih
beresiko dari pada wanita yang tidak pernah mengalami Ketuban Pecah Dini sebelumnya karena komposisi membran yang menjadi rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan berikutnya (Helen, 2008).

g.      Serviks yang inkompetensik
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.
Inkompetensia serviks adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba, 2009).

h.      Tekanan intra uterm yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat      menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini, misalnya :
1)      Trauma
berupa hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
2)      Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah (Saifudin.2002).

E.  Tanda dan gejala
1)      keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. 
Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara.
2)                 Demam
3)                 Terdapat bercak vagina yang banyak
4)                 Nyeri perut
5)                 Denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

F.   Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
    Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, konsentrasi, bau dan PHnya.
1) Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru ,menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
2) Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit (Manuaba, 2009)

G. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini
Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. Penanganan ketuban pecah dini menurut Sarwono (2010), meliputi :

A.    Konserpatif
1) Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu maupun pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
2) Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak tahan ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
3) Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes buss negativ beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
5) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
6) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
7) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra
uterin).
8) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6
jam sebanyak 4 kali.

B.     Aktif
1) Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi. Dan persalinan diakhiri.
3) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan servik, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea
4) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam Penatalaksanaan KPD menurut Manuaba (2009) tentang.
penatalaksanaan KPD adalah :

a. Mempertahankan kehamilan sampai cukup bulan khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.
b. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, maningitis janin, dan persalinan prematuritas.
c. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid,
sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
d. Pada umur kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan.
e. Menghadapi KPD, diperlukan penjelasan terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
f. Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru.
g. Waktu terminasi pada kehamilan aterm dapat dianjurkan selang waktu 6-24 jam bila tidak terjadi his spontan.

H. Komplikasi Ketuban Pecah Dini
1.  Terhadap Janin
Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi (amnionitis,vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan morrtalitas danmorbiditas perinatal.
2.  Terhadap Ibu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.
3. Terhadap kehamilan dan persalinan
•     Dapat terjadi persalinan kapan saja, terjadi kelahiran preterm.
•     Abruption placenta, karena adanya penurunan yang progresif pada permukaan intra uterin.
•     Prolaps tali pusat dapat terjadi (sering terjadi pada presentasi letak bokong atau letak lintang).
•     Oligohydramnion, dry labor.
•     Partus lama.
•     Perdarahan pada`saat persalinan.
Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan.   Dapat terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan normal.
a.       Persalinan Prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
b.      Infeksi
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
c.       Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
d.      Syndrom deformitas janin
      Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal.






BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
1.  Identitas ibu
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register  , dan diagnosa keperawatan.
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat kesehatan sekarang : ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia   kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi
b. Riwayat kesehatan terdahulu
-   Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion.
-   Sintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual
·         -  Kehamilan ganda, polihidramnion
-          Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptokokus.
-          Selaput amnion yang lemah/tipis.
-          Posisi fetus tidak normal.
-          Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek.
-     Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
c. Riwayat kesehatan keluarga : ada tidaknya keluhan ibu yang lain yang pernah hamil kembar/turunan kembar.

2.      Diagnosa keperawatan
1.      Resiko infeksi b.d ketuban pecah dini.
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d ketegangan ototrahim.
3.      Defisit / kurang pengetahuan b.d pengakuan persalinan premature.
4.      Kecemasan / ansietas b.d persalinan premature dan neonates berpotensi lahir premature.


3.      Rencana Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan  kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.
Resiko infeksi b.d ketuban pecah dini
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan pasien tidak menunjukan tanda-tanda infeksi . dengan criteria hasil :
·         Tanda-tanda infeksi tidak tidak ada.
·         Tidak ada lagi cairan ketuban yang keluar dari pervaginaan.
·         DJJ normal
·         Leukosit pasien kembali normal
·         Suhu 36-37

·         Kaji tanda-tanda infeksi.

·         Pantau keadaan umum pasien

·         Bina hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutic.


·         Berikan lingkungan yang nyaman untuk pasien.
·         Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat antiseptik sesuai terapi.

·         Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi yang muncul.
·         Untuk melihat perkembangan kesehatan pasien.
·         Untuk memudahkan perawat melakukan tindakan.
·         Agar istirahat pasien terpenuhi.
·         Untuk proses penyembuhan pasien
2.
Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d ketegangan otot rahim.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan  nyeri berkurang / nyeri hilang . dengan criteria hasil :
·         Tanda-tanda vital dalam batas normal
·         TD :120/80 mm Hg
·         N : 60-120 X/ menit.
·         Pasien tampak tenang/rileks.
·         Pasien mengatakan nyeri pada perut berkurang.

·         Kali tanda-tanda Vital pasien.

·         Kaji skala nyeri (1-10)



·         Ajarkan pasien teknik relaksasi


·         Atur posisi pasien


·         Berikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung.
·         Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
·         Untuk mengetahui derajat nyeri pasien dan menentukan tindakan yang akan dilakukan.
·         Untuk mengurangi  nyeri yang dirasakan pasien.

·         Untuk memberikan rasa nyaman.


·         Untuk mengurangi tingkat stress pasien dan pasien dapat beristirahat.
3.
Defisit / kurang pengetahuan b.d pengakuan persalinan premature
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan pasien memahami pengetahuan tentang penyakitnya . dengan criteria hasil :
·         Pasien terlihat tidak bingung lagi.
·          Pasien dapat memahami dan mau melakukan persalinan premature

·         Kaji apa pasien tahu tentang  tanda-tanda dan gejala normal selama kehamilan.
·         Ajarkan tentang apa yang harus dilakukan jika tanda KPD muncul kembali.


·         Libatkan keluarga agar memantau kondisi pasien .
·         Untuk mengetahui tentang pemahaman pasien untuk tindakan selanjutnya.
·         Mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi yang bisa membahayakan ibu-janin.
·         Untuk membantu merencanakan tindakan berikutnya.
4.
Kecemasan / ansietas b.d persalinan premature dan neonates berpotensi lahir premature
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam  di harapkan ansietas pasien teratasi. dengan criteria hasil :
·         Pasien tidak cemas lagi
·         Pasien sudah mengetahui tentang penyakit
·         Kaji tingkat kecemasan pasien.

·         Dorong pasien untuk istirahat total.



·         Berikan suasana yang tenang dan ajarkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional pasien.
  
·         Mengetahui tingkatan kecemasan yang dialami pasien.
·         Untuk mempercepat  proses penyembuhan

·         Untuk memberikan rasa nyaman dan menurunkan kecemasan pasien.








BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Pemeriksaan dalam dengan jari meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu dilakukan pada wanita dengan pecah ketuban dini, karena ia akan diurussesuai kebutuhan persalinan sampai persalinan terjadi atau timbul tanda dangejala korioamninitis. Jika timbul tanda dan gejala korioamnionitis,diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan dokter yang menanganiwanita guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan metode persalinan(melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi, presentasi dan beratkorioamnionitis.

B.  Saran
Ketuban Pecah Dini dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dan keluarganya. Bidan harus membantu wanita mengeksplorasi rasa takut yang menyertai perkiraan kelahiran janin premature serta risiko tambahan korioamnionitis. Rencana penatalaksanaan yang melibatkan kemungkinan periode tirah baring dan hospitalisasi yang memanjang harus didiskusikan dengan wanita dan keluarganya. Pemahaman dan kerja sama keluarga merupakan hal yang penting untuk kelanjutan kehamilan.












DAFTAR PUSTAKA