Jumat, 21 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan Otalgia








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Anatominya juga sangat rumit. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi, pediatrisian, internis, perawat, ahli audiologi, ahli patologi wicara dan pendidik.
            Nyeri pada telinga merupakan suatu tanda perjalanan penyakit , nyeri pada telinga disebut juga dengan Otalgia. Otalgia adalah rasa nyeri pada telinga . karena telinga dipersarafi oleh saraf yang kaya ( nervus kranialis V, VII, IX, dan X selain cabang saraf servikalis kedua dan ketiga ), maka kulit di tempat ini menjadi sangat sensitif. Otalgia adalah gejala yang dapat timbul dari iritasi lokal karena banyak kondisi dan dapat disebabkan oleh nyeri pindahan dari laring dan faring. Banyak keluhan nyeri telinga sebenarnya akibat nyeri di dekat sendi temporomandibularis. Diperkirakan bahwa lebih dari 50% pasien yang mengeluh Otalgia tidak ditemukan penyakit  telinganya.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut telah kita ketahui pembahasan yang akan dibicarakan dalam makalah ini ialah tentang Otalgia, yakni sebagai berikut:
1.      Bagaimana Anatomi Fisiologi dari Telinga?
2.      Apa definisi dari Otalgia?
3.      Apa etiologi dari Otalgia?
4.      Apa saja klasifikasi dari Otalgia?
5.      Apa saja gejala klinis dari Otalgia?
6.      Apa saja pemeriksaan fisik untuk Otalgia?
7.      Bagaimana patofisiologi dari Otalgia?
8.      Apa saja pemeriksaan diagnostik untuk Otalgia?
9.      Bagaimana pemeriksaan keseimbangan untuk Otalgia?
10.  Apa saja terapi yang dilakukan untuk Otalgia?
11.  Apa saja komplikasi dari Otalgia?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi penugasan yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah Ilmu Keperawatan Medikal Bedah III, selain itu juga diharapkan pemakalah ataupun pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang:
1.      Anatomi Fisiologi Telinga
2.      Definisi dari Otalgia
3.      Etiologi dari Otalgia
4.      Klasifikasi dari Otalgia
5.      Gejala klinis dari Otalgia
6.      Pemeriksaan fisik dari Otalgia
7.      Memahami patofisiologi dari Otalgia
8.      Pemeriksaan diagnostic dari Otalgia
9.      Pemeriksaan keseimbangan dari Otalgia
10.  Terapi dari Otalgia
11.  Komplikasi dari Otalgia

D.    Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari empat bab yang tersusun secara sistematis dengan penjelasan sebagai berikut :
BAB I             : PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang, masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II            : PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan konsep dasar yang meliputi : Anatomi Fisiologi telinga, definisi, etiologi, klasifikasi, gejala klinis, pemeriksaan fisik, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, pemeriksaan keseimbangan, dan terapi.
BAB III          : PENUTUP
Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Anatomi Fisiologi Telinga
       Indera pendengar merupakan salah satu alat panca indera untuk mendengar. Bagian-bagian telinga terdiri dari :
1.           Telinga bagian luar (Auris eksterna)
Aurikula (daun telinga) menampung gelombang suara datang dari luar masuk ke dalam telinga. Meatus akustikus eksterna (liang telinga) merupakan saluran penghubung aurikula dengan membrane timpani panjangnya + 2,5 cm terdiri dari tulang rawan dan tulang keras, saluran ini mengandung rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, khususnya menghasilkan sekret-sekret berbentuk serumen. Membran timpani merupakan antara telinga luar dan telinga tengah terdapat selaput gendang telinga.


2.           Telinga bagian tengah (Auris media)
Kavum timpani merupakan rongga di dalam tulang temporalis terdapat 3 buah tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang melekat pada bagian dalam membrane timpani dan bagian dasar tulang stapes membuka pada fenestra ovalis.
Antrum timpani merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak di bagian bawah samping dari kavum timpani. Antrum timpani dilapisi oleh mukosa merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani, rongga ini berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebut sellula mastoid yang terdapat di belakang bawah antrum di dalam tulang temporalis.
Tuba auditiva eustaki merupakan saluran tulang rawan yang panjangnya + 3,7 cm berjalan miring ke bawah agak ke depan, dilapisi oleh lapisan mukosa.


3.         Telinga bagian dalam (Auris Interna)


Terletak pada bagian tulang keras pylorus temporalis, terdapat reseptor pendengaran dan alat pendengar ini disebut labirin.Labirin osseous merupakan serangkaian saluran bawah dikelilingi oleh cairan dinamakan perilimfe. Labirin osseous terdiri dari :
a.        Vestibulum
b.        Koklea
c.         Kanalis semi sirkularis

Adapun fisiologi pendengaran yaitu :
Ditimbulkan oleh getaran atmosfer yang dikenal gelombang suara dimana kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membran timpani bergetar, getaran-getaran tersebut diteruskan menuju inkus dan stapes melalui maleus yang terkait pada membrane itu. Karena getaran yang timbul setiap tulang itu sendiri maka tulang akan memperbesar getaran yang kemudian disalurkan ke fenestra vestibuler menuju perilimfe. Getaran perilimfe dialihkan melalui membrane menuju endolimfe dalam saluran koklea dan rangsangan mencapai ujung-ujung akhir saraf dalam organ korti selanjutnya dihantarkan menuju otak. Perasaan pendengaran ditafsirkan otak sebagai suara yang enak atau tidak.

B.     Definisi
Otalgia adalah telinga nyeri, sering disebut sebagai “sakit telinga”.
Otalgia utama ada ketika rasa sakit itu berasal di dalam telinga, otalgia dimaksud adalah nyeri yang berasal luar telinga. Ketika otalgia muncul, pemeriksaan telinga biasanya menunjukkan beberapa kelainan pada telinga luar atau tengah. Otalgia mungkin atau tidak dapat dikaitkan dengan gangguan keseimbangan dan penurunan pendengaran.
            Otalgia adalah rasa nyeri pada telinga. Karena telinga dipersarafi oleh saraf yang kaya (nervus kranialis V, VII, IX, dan X selain cabang saraf servikalis kedua dan ketiga), maka kulit di tempat ini menjadi sangat sensitif.
Jadi Otalgia adalah suatu keluhan yang timbul berupa rasa sakit di telinga oleh karena penyakit yang ada di telinga atau penjalaran rasa sakit akibat suatu penyakit di daerah lain  di luar telinga dengan karakteristik yang sesuai dengan berat penyakit yang dialami seseorang. 

C.    Etiologi
Penyebab otalgia dapat dibedakan menjadi dua , yaitu :
1. Otalgia primer
            a. Otitis Externa
Otitis eksterna adalah proses inflamasi dari meatus akustikus eksterna yang dapat disebabkan oleh kelembaban ataupun trauma. Biasanya penyakit ini sering muncul saat musim panas karena meningkatnya intensitas orang untuk pergi berenang, karena itulah penyakit ini biasa disebut sebagai “telinga perenang”.
Otitis eksterna lazim terjadi dan selalu terasa nyeri, sering nyeri yang sangat hebat. Tanda utama otitis eksterna bahwa tarikan pada aurikula atau penekanan pada tragus dapat memperhebat nyeri ini, yang tidak terjadi pada otitis media supuratif akut. Bila otitis eksterna karena jamur, sering nyeri terlihat tidak sesuai dengan gambaran fisik kulit liang telinga berwarna merah, tetapi biasanya edema lebih ringan dibandingkan dengan yang terjadi pada infeksi bakteri dan mungkin terdapat eksudat jernih yang minimum.
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan debris atau eksudat yang biasa ditemukan pada liang telinga dan tidak jarang juga menutupi membran timpani.
            b. Polikondritis
Polikondritis ditandai oleh reaksi radang yang menonjol pada struktur-struktur kartilago. Tersering mengenai kartilago telinga dan aurikula menjadi merah, bengkak, nyeri dan nyeri tekan. Biasanya mengenai aurikula bilateral disertai reaksi akut pada aurikula yang terjadi bersamaan atau berganti-gantian. Relaps lazim dan dapat terjadi dari beberapa kali dalam sebulan sempai sekali dalam beberapa tahun, dan dapat berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa bulan.
            c. Otitis Media
Otitis media akut dapat mengembangkan otalgia berat dan biasanya didahului oleh demam, iritabilitas dan hilangnya pendengaran. Nyeri telinga sinonim dengan otitis media supuratif akut akibat infeksi bakteri dicelah telinga tengah. Organisme yang sering bertanggung jawab meliputi Streptococcus, Haemoliticus, Pneumococcus dan Haemophillas influenzae. Nyeri telinga dan demam yang menandai mulanya otitis media supuratif akut dan biasanya didahului oleh gejala-gejala berbagai infeksi traktus respi ratorius atas.  Pada anak dan orang dewasa gejala utamanya adalah nyeri telinga. Mungkin juga terdapat sensasi penuh ditelinga dan  gangguan pendengaran, dapat juga  timbul tinnitus dan demam.
            d. Barotrauma
Pada anak kecil yang mempunyai disfungsi tuba eustachius dapat terjadi trauma pada telinga tengah dan membran timpani saat terjadi perubahan tekanan secara tiba-tiba. Bila tuba Eustachius tidak dapat terbuka, maka nyeri cepat menghambat di dalam telinga serta gangguan pendengaran. Kadang-kadang membran timpani akan ruptur, biasanya dengan pendarahan mendadak dari telinga dapat meredakan nyeri.


            e. Mastoiditis Supuratif akut
Mastoiditis Supuratif akut timbul sebagai akibat terapi otitis media supuratif akut yang tidak adekuat dan biasanya pada anak-anak. Kadang-kadang pasien otitis media supuratif akut tidak mencari pertolongan medis karena nyeri terhenti dengan mulainya otore. Tetapi, setelah beberapa hari otore, dapat terjadi kekambuhan demam dan nyeri yang menunjukkan mulainya mastoiditis akut. Biasanya pada pemeriksaan telinga menunjukkan banyak sekret purulen dari performasi membrana timpani dan “sagging” dinding posterior superior bagian dalam meatus akustikus eksternus.
            f. Miringitis bulosa
Miringitis bulosa terdiri dari nyeri telinga serta gelembung hemoragik dikulit meatus akustikus eksterna dan pada membrana timpani. Penyakit ini sembuh sendiri dengan nyeri yang mereda serta gelembung mengering dan menghilang setelah beberapa hari. Tidak terdapat demam, eksudat purulen atau tuli tanpa infeksi bakteri sekunder.

2. Otalgia sekunder
       a.  Nyeri alih (Reffered otalgia) oleh Nervus Trigeminus (N.V)
1. Penyakit Gigi
Nyeri mungkin dialihkan ke telinga dari karies gigi, penyakit gigi, infeksi periapikal dari gigi belakang dan infeksi subperiosteal rahang atas dan bawah.
2. Iritasi Sinus Paranasal
Inflamasi dan iritasi dari cabang nervus trigeminus pada sinus paranasal terutama sinus maksilla dapat menimbulkan nyeri alih pada telinga.
3.  Lesi di rongga mulut
4.  Glandula salivatori
Inflamasi, obstruksi dan penyakit neoplasma dari submandibula, sublingual dan terutama kelenjar parotis dapat menimbulkan otalgia
5. Iritasi Durameter
Iritasi oleh infeksi atau tumor dari durameter bagian tengah atau posterior fossa cramial dapat menimbulkan nyeri telinga.
b.  Nyeri alih (Referred atalgia) oleh nervus fasialis
Nervus fasialis adalah saraf motorik dari otot mimik tetapi ada serat sensoris dari saraf fasialis yang mempersarafi kulit yang terletak pada bagian lateral dari konka dan antiheliks dan juga pada lobus posterior dan kulit yang terletak pada daerah mastoid. Penyebab paling sering nyeri alih oleh saraf fasialis adalah bell’s palsy sebelum terjadinya paralysis pada wajah. Pasien dengan herpes zoster otikus (Ramsay Hunt syndrome) juga dapat mengalami otalgia. Pada penyakit ini dapat ditemukan vesikel sepanjang konka dan liang posterior.
 c. Nyeri alih (Referred otalgia) oleh nervus glossopharyngeal (N. IX)
Tonsilitis akut, peritonsilitis atau abes peritonsilar adalah penyakit yang sering menyebabkan nyeri alih pada telinga. Pasien biasanya mengeluh otalgia setelah melakukan tonsilektomi.
 d. Nyeri alih (Referred otalgia) oleh nervus vagus (N. X)
Cabang utama dari saraf vagus mempersarafi mukosa laring, hipofaring, fraken, esofagus dan kelenjar tiroid. Nyeri pada setiap bagian ini dialihkan ke telinga.

           Laringitis
Semua bentuk laringitis dapat menyebabkan nyeri alih otalgia. Luka pada laring atau adanya benda asing pada laring dapat menyebabkan adanya nyeri yang menjalar ke telinga.
        e. Nervus cervical
Penyebab otalgia dari pleksus servikal adalah limfadenopati servikal yang biasanya terdapat pada jaringan limfe di oksipital dan mastoid            .

D.    Klasifikasi
Klasifikasi otalgia dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan atas penyebabnya adalah sebagai berikut :
1.      Otalgia primer adalah nyeri yang berasal dari penyakit yang ada di telinga.
Seperti : Otitis Externa, Polikondritis, Otitis Media, Barotrauma,  Mastoiditis Supuratif akut, Miringitis bulos, dll.  
2.      Otalgia sekunder adalah penjalaran rasa nyeri dari tempat lain.
Seperti : Penyakit Gigi, Iritasi Sinus Paranasal, Lesi di rongga mulut, Glandula salivatori, Iritasi Durameter, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrome, Tonsilitis akut, peritonsilitis atau abes peritonsilar, limfadenopati servikal, laringitis, dll.

E.     Gejala Klinis
Gejala klinis yang dapat timbul adalah sebagai berikut :
Sakit telinga itu sendiri merupakan suatu gejala atau keluhan, biasanya disertai dengan gejala-gejala lain dan bisa dari berbagai penyebab.
Bayi dan anak-anak biasanya menjadi rewel, sering menggaruk-garuk telinga atau menarik-narik telinga, bila penyakitnya di telinga biasanya disertai gangguan pendengaran. Pada keadaan infeksi dapat disertai demam dan keluar cairan dari telinga. Sakit telinga yang sering timbul pada anak-anak adalah akibat infeksi telinga tengah akut, yang timbul secara tiba-tiba. Biasanya disertai dengan demam tinggi, kadang-kadang sampai kejang dan muntah. Biasanya sebelumnya didahului oleh batuk dan pilek.
Pada penderita yang sudah dapat menjelaskan seperti anak yang agak besar, remaja dan dewasa, yang sering dialami selain nyeri adalah adanya perasaan penuh atau tekanan pada telinga, gangguan pendengaran, pusing dan pada infeksi terdapat cairan yang keluar dari telinga atau demam. Sakit telinga akibat infeksi telinga yang sudah menyebar kedaerah mastoid atau daerah dibelakangtelinga (mastoiditis), biasanya disertai dengan nyeri kepala. Pada infeksi liang telinga (otitis eksterna) sering disertai nyeri ketika membuka mulut atau menelan.
F.     Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: adanya kemerahan di liang telinga, klien mengeluhkan rasa sakit yang amat sangat menggangu di telinganya.
Palpasi: adanya nyeri tekan pada bagian yang sakit.

G.    Patofisiologi Otalgia


H.    Pemeriksaan Diagnostik
            Pemeriksaan diagnostik biasanya dilakukan dengan menanyakan beberapa hal sehubungan dengan keluhan sakit telinga yang timbul. Seperti adanya riwayat sakit batuk, pilek dan demam, riwayat mengorek telinga sebelumnya, riwayat naik pesawat. Sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab telinga nyeri untuk mengetahui cara mengatasi rasa sakit tersebut. 
Telinga akan diperiksa dengan seksama baik menggunakan otoskop atau endoskopi jika perlu. Organ sekitarnya juga akan diperiksa untuk memastikan asal rasa sakit tersebut. Juga dilakukan Tes Toynbee/Valsava  yaitu tes untuk menentukan masih tidaknya fungsi Eustachius, Tes pendengaran, Tes keseimbangan, bila perlu dilakukan pemeriksaan Radiologi.
Dapat juga dilakukan tes fungsi dan tes keseimbangan seperti :
1.      Tes fungsi
Tes Toynbee/Valsava adalah untuk mengetahui masih tidaknya fungsi eusthacius
2.      Tes pendengaran
Tujuan dari tes pendengaran adalah :
1.                  Menentukan apakah pendengaran seseorang normal atau tidak.
2.                  Menentukan derajat kekurangan pendengaran.
3.                  Menentukan lokalisasi penyebab gangguan pendengaran.
3.      Tes Suara
Tes Bisik : Normalnya tes bisik dapat didengar 10 – 15 meter. Tetapi biasa dipakai patokan 6 meter. Syarat melakukan tes Bisik :
1.                  Pemeriksa berdiri di belakang pasien supaya pasien tidak dapat membaca gerakan bibir pemeriksa.
2.                  Perintahkan pasien untuk meletakkan satu jari pada tragus telinga yang tidak diperiksa untuk mencegah agar pasien tidap dapat mendengar suara dari telinga itu.
3.                  Bisikkan kata pada telinga pasien yang akan diperiksa. Kata harus dimengerti oleh pasien, kata dibagi atas : yang mengandung huruf lunak ( m, n, l, d, h, g ) dan yang mengandung huruf desis ( s, c, f, j, v, z ).
4.                  Suruh pasien untuk mengulang kata – kata tersebut.
5.                  Sebut 10 kata ( normal 80 % ), yaitu 8 dari 10 kata atau 4 dari 5 kata.
6.                  Apabila penderita tidak / kurang mendengar huruf desis → tuli persepsi.
7.                  Apabila penderita tidak / kurang mendengar huruf lunak → tuli konduksi
Tes Konversasi : Caranya sama dengan tes bisik, tetapi tes ini menggunakan percakan biasa.
4.      Tes Garpu Tala.
Tes Schwabach : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui tulang penderita dan pemeriksa. Syarat melakukan tes Schwabach :
1.                  Gunakan garpu tala 256 atau 512 Hz.
2.                  Getarkan garpu tala.
3.                  Letakkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa.
4.                  Apabila bunyi sudah tidak didengar lagi, segera garpu tala diletakkan pada planum mastoid penderita.
5.                  Lakukan hal ini sekali lagi tetapi sebaliknya lebih dahulu ke telinga penderita lalu ke telinga pemeriksa. Lakukan cara ini untuk telinga kiri dan kanan.
6.                  Normal jika pemeriksa sudah tak dapat mendengar suara dari garpu tala, maka penderita juga tidak dapat mendengar suara dari garpu tala tersebut.
7.                  Tuli Konduksi apabila pemeriksa sudah tidak dapat mendengar suara dari garpu tala tetapi penderita masih dapat mendengarnya ( Schwabach memanjang ).
8.                  Tuli persepsi apabila pemeriksa masih dapat mendengar suara dari garpu tala tetapi penderita sudah tidak dapat mendengar lagi.
Tes Rinne : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui tulang dan melalui udara pada penderita. Syarat melakukan tes Rinne :
1.                  Garpu tala digetarkan.
2.                  Letakkan tegak lurus pada planum mastoid penderita, ini disebut posisi 1 ( satu ).
3.                  Setelah bunyi sudah tidak terdengar lagi letakkan garpu tala tegak lurus di depan meatus akustikus eksterna, ini disebut posisi 2 (dua ).
4.                  Kalau pada posisi 2 masih terdengar bunyi → Tes Rinne (+).
5.                  Kalau pada posisi 2 tidak terdengar bunyi → Tes Rinne (–).
6.                  Kalau pada posisi 1 terdengar berlawanan → Tes Rinne ragu – ragu.
Tes Weber : Tes ini digunakan untuk membandingkan penghantaran bunyi melalui sebelah kanan / kiri penderita. Syarat melakukan tes Weber :
1.                  Garpu tala digetarkan.
2.                  Letakkan tegak lurus pada garis tengah kepala penderita, mis : dahi, ubun – ubun, rahang, kemudian suara yamg paling keras di kiri dan kanan.
3.                  Pada tes ini terdapat beberapa kemungkinan.
4.                  Bisa didapat hasil telinga kiri dan kanan sama keras terdengarnya, hal ini bisa berarati : normal atau ada gangguan pendengaran yang jenisnya sama.
5.                  Bisa juga didapatkan hasil telinga kiri > telinga kanan atau kiri < telinga kanan.
6.                  Lateralisasi ke kanan dapat berarti : adanya tuli konduksi sebelah kanan, telinga kiri dan kanan ada tuli konduksi, tetapi yang kanan lebih berat dari yang kiri, terdapat tuli persepsi disebelah kiri, keduanya tuli persepsi, keduanya tuli persepsi tetapi lebih berat yang kiri, kedua telinga tuli, kiri tuli persepsi, kanan tuli konduksi.
Berbagai macam tes diatas merupakan sebagian dari berbagai macam cara untuk mengetahui fungsi pendengaran seseorang. Sehingga untuk mengetahui dan mendiagnosa seseorang mengalami ketulian diperlukan tes – tes yang lain selain yang dipaparkan diatas.

I.       Pemeriksaan Keseimbangan
1.      Berdiri normal
2.      Berdiri kaki rapat
3.      Berdiri tandem
4.      Berdiri satu kaki
5.      Berbagai posisi lengan pada tes di atas
6.      Berbagai ggn keseimbangan pada tes di atas
7.      Berdiri fleksi – neutral – ekstensi trunk
8.      Berdiri side fleksi
9.      Berjalan memposisikan kaki tandem
10.  Berjalan sepanjang garis atau tanda tertentu
11.  Berjalan ke samping, berjalan mundur
12.  Berjalan di tempat
13.  Berjalan dgn berbagai kecepatan
14.  Berjalan dan berhenti dengan mendadak
15.  Berjalan membentuk lingkaran
16.  Berjalan pada tumit atau jari-jari kaki
17.  Berdiri mata terbuka – mata tertutup (Romberg test)

J.      Terapi
Terapi yang dapat diberikan pada penderita otalgia sesuai dengan penyakit primer yang menyebabkan otalgia tersebut. Terapi yang diberikan dapat berupa : Jika terdapat kotoran yang keras atau benda asing akan dibersihkan dengan alkohol, asam salisilat. Pada kasus infeksi akan diterapi dengan pemberian antibiotika atau anti jamur. Pada kasus tertentu bahkan dilakukan tindakan pembedahan. Dapat juga diberikan kompres hangat, analgesik.

K.    Komplikasi
Komplikasi dari otalgia antara lain:
1.      Mastoiditis. Supuratif. Terjadi karena otalgia yang tidak terobati secara adekuat. Terjadi nyeri postauricular + eritem + demam. Perlu mastoidectomy.
2.      Petrous Apicitis
3.      Osteomielitisa
4.      Paralisis nervus facialis
5.      Sigmoid sinus thrombosis

A.    Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Pengkajian  Primer (Primery Survey)
1). Airway
Bila etiologinya berasal dari eksternal atau adanya  penyakit respirasi penyerta kemungkinan kondisi klien tidak mengalami :
a.       Suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi, rhonci, gargling, dll
b.      Retensi lendir/sputum di tenggorokan
c.       Suara serak
d.      tidak Batuk berdahak atau kering
2). Breathing
Bila etiologinya berasal dari eksternal atau adanya  penyakit respirasi penyerta kemungkinan kondisi klien mengalami :
a.       Batuk
b.      Sesak napas
c.       Adanya penggunaan otot bantu napas
d.      Frekuensi tidak berada pada batas normal yaitu 16 – 24 x/mnt.
3). Circulation
Bila etiologinya berasal dari eksternal atau adanya  penyakit respirasi penyerta kemungkinan kondisi klien :
a.       TD  meningkat
b.      capillary refill normal
c.       Demam
d.      Disability / Neurological
e.       Terdapat nyeri pada daerah telinga.
f.       Kemampuan pendengaran menurun.

b. Pengkajian Sekunder (Secundary Survey)
1)   Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah klien pernah menderita :
Otitis Externa, Polikondritis, Otitis Media, Barotrauma,  Mastoiditis Supuratif akut, Miringitis bulos dan penyakit telinga lainnya. Juga beberapa penyakit diluar telinga seperti : Penyakit Gigi, Iritasi Sinus Paranasal, Lesi di rongga mulut, Glandula salivatori, Iritasi Durameter, Bell’s palsy, Ramsay Hunt syndrome, Tonsilitis akut, peritonsilitis atau abes peritonsilar, limfadenopati servikal, laringitis, dll.
2)   Pemeriksaan fisik
a. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
Ø  Aktivitas menurun
Ø  Adanya perubahan pola tidur
Ø  Lebih sering istirahat
Data obyektif :
Ø  Tidak terjadi perubahan tingkat kesadaran
Ø  Tidak terjadi Perubahan tonus otot  ( flasid atau spastic),  paraliysis ( hemiplegia )
Ø  Terlihat kelemahan umum.
Ø  gangguan pendengaran

                         b. Sirkulasi
Data Subyektif:
Ø  Demam, akral hangat
Data obyektif:
Ø  Suhu tubuh diatas 37,5oC
Ø  Kadar WBC meningkat
c. Eliminasi
Data Subyektif:
Ø  Tidak mengalami gangguan eleminasi
Data obyektif
Ø  Tidak adanya suara usus( ileus paralitik )
d. Makan/ minum
Data Subyektif:
Ø Kemungkinan nafsu makan menurun
Data obyektif:
Ø  Makanan tersisa lebih dari setengah
Ø  Hanya mampu makan ¼ porsi
e. Sensori neural
Data Subyektif:
Ø  Kelemahan
Ø  Pendengaran berkurang
Data obyektif:
Ø  Status mental baik
Ø  Menurunnya kemampuan mendengar

f.  Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
Nyeri di daerah telinga yang terinfeksi oleh penyakit primer dari otalgia
Data obyektif:
Ø  Tingkah laku yang tidak stabil
Ø  Gelisah
Ø  Ketegangan otot
g. Respirasi
Data Subyektif :
Ø  Sesak nafas
Ø  Batuk kering
Ø  Flu
Data obyektif:
Ø  Frekuensi pernafasan menurun
Ø  Batuk tidak berdahak
Ø  Adanya suara nafas tambahan
Ø  Menggunakan otot bantu pernafasan
h. Keamanan
Data Subyektif :
Ø  Cemas
Data obyektif:
Ø  Motorik/sensorik : masalah dengan pendengaran
Ø  Perubahan persepsi terhadap tubuh
Ø  Penurunan pendengaran

i. Interaksi sosial
Data Subyektif:
Ø  Pendengaran menurun
Data obyektif:
Ø  Penurunan komunikasi.
( Doengoes edisi 3, 2000 )
2. Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik karena penyakit lain ditandai dengan adanya nyeri secara verbal, adanya gerakan untuk melindungi bagian tubuh yang nyeri dan terlihat meringis, tekanan darah meningkat, dan nadi meningkat.
b.      Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma ditandai dengan kulit diraba hangat, peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal takhikardi dan kulit nampak merah.
c.       Nausea berhubungan dengan faktor fisiologi :  nyeri  yang ditandai dengan peningkatan saliva dan melaporkan adanya mual.
d.      Gangguan sensori persepsi : pendengaran yang berhubungan dengan perubahan sensori persepsi pendengaran yang ditandai dengan distorsi pendengaran, perubahan pola komunikasi dan gelisah.
e.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan informasi yang ditandai dengan mengungkapkan adanya masalah.




3.Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri akut yang klien rasakan dapat terkontrol, dengan Kriteria hasil :
-     tidak melaporkan adanya nyeri secara verbal
-     tekanan darah normal, dan nadi normal

MANDIRI
- Kaji tingkat nyeri yang             dirasakan baik intesitas, karakterisk maupun beratnya (skala 1-10)

- Berikan lingkungan yg tenang sesuai indikasi.




- Berikan kompres hangat pada lokasi nyeri.

- Berikan posisi yang nyaman pada klien sesuai indikasi.

KOLABORASI :
-  Berikan analgetik, seperti asetaminofen

MANDIRI
- Sebagai indikator keefektifan intervensi yang diberikan dan perubahan karakteristik nyeri.
- Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensivitas pada suara-suara bising dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
- Mampu meningkatkan rasa nyaman dan mengurangi rasa nyeri.
- Menurunkan gerakan yang    dapat meningkatkan nyeri.

KOLABORASI
-    Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat serta meningkatkan kenyamanan dan istirahat.
2.
Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma.
Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam, pada klien tidak terjadi hipertermi, dengan kriteria hasil :
a.       - Suhu dalam rentang  normal.
b.      - Kulit tidak hangat
c.       - Kulit di daerah telinga luar tidak terlihat kemerahan.


MANDIRI :
-          Pantau suhu klien setiap 8 jam
-          Anjurkan klien untuk menggunakan kompres hangat
-          Anjurkan klien pentingnya mempertahankan asupan cairan yang adekuat
-          Jelaskan perlunya menggunakan pakaian yang kendur dan tipis serta menyerap keringat

KOLABORASI :
-          Anjurkan pemberian antipiretik paracetamo
MANDIRI :
- Untuk menentukan intervensi selanjutnya
- membantu untuk menurunkan suhu badan klien

- Mencegah dehidrasi




- Untuk pengeluaran panas lebih efektif





KOLABORASI :
-          Pemberian antipiretik dapat menurunkan panas badan klien
3.
Nausea berhubungan dengan faktor fisiologi
Setelah diberikan askep selama 2 x 24 jam diharapkan tanda-tanda nausea berkurang atau tidak ada lagi, dengan Kriteria hasil :
a.   - Tidak mengalami peningkatan saliva


MANDIRI :
- Dorong pasien untuk makan sedikit, tapi sering dan untuk makan dengan perlahan. Makanan sebaiknya jenis lembut cair dan dingin
- Singkirkan pemandangan  bau yang tidak sedap dari area makanan
- Dorong klien untuk istirahat pada posisi semi fowler setelah makan dan mengganti posisi dengan perlahan
- Batasi minum bersama makan, hindari bau makanan dan stimulus yang tidak mengenakkan.

MANDIRI :
-          Makanan yang cair lembut dan dingin biasanya ditoleransi dengan baik

-          Bau yang tidak sedap dapat memicu mual.

-          Dapat mencegah aspirasinya makanan dan dapat mengurangi rasa mual.

-          Teknik untuk mengurangi mual.

4.
Gangguan sensori persepsi : pendengaran yang berhubungan dengan perubahan sensori persepsi pendengaran yang ditandai dengan distorsi pendengaran, perubahan pola komunikasi dan gelisah.

Setelah diberikan askep selama 4 x24 jam, diharapkan gangguan sensori persepsi :pendengaran berkurang, dengan
Kriteria hasil :
-       Tidak terjadi distorsi  pendengaran
-       Komunikasi yang dilakukan dapat diterima

MANDIRI :
-          Orientasi dengan kenyataan
-          Memberikan dukungan secara emosional

-          Ajarkan klien perawatan telinga yang sesuai indikasi
-          Memperbaiki cara komunikasi dengan bicara pelan di dekat klien dan tidak berteriak-teriak
-          Berikan posisi yang nyaman dan tidak bising

MANDIRI :
- Menimbulkan mental klien yang positif
- Meyakinkan klien bahwa dia tidak sendiri dan ada yang memperhatikan dirinya
- Agar tidak memperparah penurunan pendengaran yang terjadi pada klien
- Dengan berteriak-teriak dapat memperparah kondisi telinga klien


- Agar telinga klien tidak tambah sakit karena kebisingan dapat menjadi faktor pencetus nyeri telinga dan penurunan pendengaran

5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan informasi
Setelah diberikan askep selama  1 x 30 menit diharapkan kurang pengetahuan klien dapat diatasi, dengan kriteria hasil :
-          Mengungkapkan masalah berkurang
-          Klien mampu menyebutkan penyebab dari otalgia
-          Klien mampu mampu menyebutkan hal yang dapat memperburuk penyakitnya
-          Klien mampu menyebutkan upaya-upaya untuk mencegah menderita otalgia kembali
MANDIRI :
-          Kaji tingkat pengetahuan klien.


-          Berikan kesempatan pada klien untuk menanyakan hal-hal mengenai penyakitnya
-          Informasikan pada klien mengenai penyakit.

-          Berikan kesempatan pada klien untuk mengulangi kembali informasi yang telah disampaikan.
MANDIRI :.
-          Mengetahui kemampuan kognitif agar dapat memilih intervensi yang tepat
-          Memberikan kesempatan untuk menggali keingintahuan klien mengenai penyakitnya
-          Membantu agar klien dapat mengerti dan paham dengan penyakitnya
-          Mengevaluasi intervensi yang telah dilakukan pada klien
                                                                 


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sakit telinga adalah suatu kondisi yang menyebabkan sakit parah atau ringan di telinga. Kondisi ini disebut juga otalgia, yang berarti penyebabnya berasal dari luar telinga. Pada kondisi ini, rasa sakit lebih dari sekedar gejala dari penyakit yang menyebabkannya atau infeksi. Kondisi ini juga bersifat primer, di mana rasaa sakit berasal dari dalam telinga. Menderita sakit telinga tidak selalu menyebabkan gangguan pendengaran.
Telinga adalah organ yang berfungsi untuk mendengar dan menyeimbangkan tubuh. Telinga dibagi menjadi tiga bagian: bagian luar, tengah, dan dalam. Telinga luar, yang meliputi daun telinga (tulang rawan kulit yang terlihat), menerima suara, yang kemudian masuk melalui sebuah tabung kecil lalu ke membrane timpani atau gendang telinga, yang menandai awal dari bagian telinga tengah.
Selain gendang telinga juga terdapat tulang yang lebih kecil (maleus, inkus, dan stapes, yatiu tulang terkecil di dalam tubuh), yang juga bergetar. Getaran ini menjadi lebih keras dan melaju ke koklea, di mana getaran diterima dalam bentuk cairan. Koklea kemudian mengubah suara dari bentuk cairan menjadi sinyal listrik yang dapat dipahami oleh otak. Salah satu bagian dari telinga dalam adalah saluran setengah lingkaran, yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbanagan. Organ ini dipenuhi dengan cairan. Tabung yang berada pada telinga tengah, yang disebut eustachius, juga harus menjaga cairan yang cukup dengan mengeringkannya, yaitu dengan melalui bagian belakang telinga lalu menuju ke tenggorokan
B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa untuk mendalami dan memahami tentang Otalgia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar