Senin, 24 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan LUPUS (SLE)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penyakit lupus adalah penyakit yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengidap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit lupus mencapai 5 juta orang dan lebihdari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.
Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga tetap sehat. Namun, apa jadinya jika kekebalan tubuh justru menyerang organ tubuh yang sehat. Penyakit lupus diduga berkaitan dengan system imunologi yang berlebih. Penyakit ini tergolong misterius. Dokter kadang bingung mendiagnosis penyakit ini. Jumlah penderita lupus ini tidak terlalu banyak. Menurut data pustaka di Amerika Serikat ditemukan 14,6 sampai 50,8 per 100.000. Di Indonesia bias dijumpai sekitar 50.000 penderitanya. Sedangkan di RS Ciptomangunkusumo Jakarta, dan  71 kasus yang ditangani sejak awal 1991 sampai akhir 1996, 1 dari 23 penderitanya adalah laki-laki. Saat ini, ada sekitar 5 juta pasien lupus di seluruh dunia dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak, dewasa, laki-laki, dan perempuan.
Penyakit lupus masih awam bagi masyarakat. Penyakit lupus biasanya menyerang wanita produktif. Meski kulit wajah penderita lupus dan sebagian tubuh lainnya muncul bercak-bercak merah, tetapi penyakit ini tidak menular. Terkadang kita meremehkan rasa nyeri pada persendian, seluruh organ tubuh terasa sakit atau terjadi kelainan pada kulit, atau tubuh merasa kelelahan berkepanjangan serta sensitive terhadap sinar matahari. Semua itu merupakan sebagian dari gejala penyakit lupus.
Factor yang diduga sangat berperan terserang penyakit lupus adalah factor lingkungan, seperti paparan sinar matahari, stress, beberapa jenis obat, dan virus. Oleh karena itu, bagi para penderita lupus dianjurkan keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00. saat bepergian, penderita memakai sun block atau sun screen (pelindung kulit dari sengatan sinar matahari) pada bagian kulit yang akan terpapar.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut telah kita ketahui pembahasan yang akan dibicarakan dalam makalah ini ialah tentang Lupus, yakni sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari Lupus?
2.      Apa saja gejala-gejala dari Lupus?
3.      Apa yang menjadi penyebab timbulnya Lupus?
4.       Bagaimana diagnosis bagi penderita Lupus/
5.       Apa saja pengobatan bagi penderita Lupus?
6.       Apa saja komplikasi yang dapat terjadi?

C.     Tujuan
Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa atau pembaca mampu:
1.      Mendeskripsikan pengertian dari penyakit Lupus
2.      Mendeskripsikan gejala-gejala yang timbul akibat penyakit Lupus
3.      Mendeskripsikan penyebab timbulnya penyakit Lupus
4.      Mendeskripsikan diagnosis untuk penyakit Lupus
5.      Mendeskripsikan pengobatan untuk penyakit Lupus
6.      Mendeskripsikan komplikasi yang dapat terjadi bagi penderita Lupus

D.    Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yang tersusun secara sistematis dengan penjelasan sebagai berikut :
BAB I             : PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang, masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II            : PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan konsep dasar yang meliputi : pengeetian, gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, komplikasi.
BAB III          : PENUTUP
Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Lupus dalam Bahasa latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar saru abad lalu. Awalnya penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan disekitar hidung dan pipi. Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan, rambutnya rontok, persendian kerap bengkak, dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hamper seluruh organ yang ada dalam tubuh. dr. rahmat Gunadi dari Fakultas Kedokteran UNPAD menjelaskan, penyakit lupus adalah penyakit system imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi system imunitas bias mengenai berbagai system organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, system saraf, system kardiovaskular, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, system pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah, dan sel-sel darah. (Anonim, 2009)
Buku kecil Care for Lupus (Syamsi Dhuha) menjelaskan, lupus adalah sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus. Dalam istilah sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri.
Penyakit lupus adalah penyakit inflamasi kronik yang diperantarai oleh system imun, di mana seharusnya system ini melindungi tubuh dari berbagai penyakit justru sebaliknya menyerang tubuh itu sendiri.
Penyakit autoimun adalah istilah yang digunakan saat system imunitas atau kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Penyebab kondisi autoimun pada lupus belum diketahui. System kekebalan tubuh penderita lupus akan menyerang sel, jaringan dan organ yang sehat. Ada juga yang menganggap pemicu penyebab munculnya penyakit lupus pada beberapa orang adalah karena pengaruh factor genetika dan lingkungan.



Penyakit lupus terbagi dalam beberapa tipe, Antara lain:
a)      Lupus eritematosus sistemik (SLE)
Lupus erythematosus sistemik adalah jenis lupus yang paling sering dirujuk masyarakat umum sebagai penyakit lupus. SLE dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan sampai parah. Gejala SLE juga dapat dating dengan tiba-tiba atau berkembang secara perlahan-lahan dan dapat bertahan lama atau bersifat lebih sementara sebelum akhirnya kambuh lagi.
Banyak yang hanya merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama atau bahkan tidak sama sekali sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Gejala-gejala ringan SLE, terutama rasa nyeri dan lelah berkepanjangan, dapat menghambat rutinitas kehidupan. Karena itu, para penderita SLE bias merasa tertekan, depresi, dan cemas meski hanya mengalami gejala ringan.
b)      Lupus eritematosus discoid (DLE)
Jenis lupus yang hanya menyerang kulit disebut lupus eritematosus discoid (DLE). Meski umumnya berdampak pada kulit saja, jenis lupus ini juga dapat menyerang jaringan serta organ tubuh yang lain.
DLE biasanya dapat dikendalikan dengan menghindari paparan sinar matahari langsung dan obat-obatan. Gejala DLE diantaranya:
·         Rambut rontok
·         Pitak permanen
·         Ruam merah dan bulat seperti sisik pada kulit yang terkadang akan menebal dan menjadi bekas luka
c)      Lupus akibat penggunaan obat
Efek samping obat pasti berbeda-beda pada tiap orang. Terdapat lebih dari 100 jenis obat yang dapat menyebabkan efek samping yang mirip dengan gejala lupus pada orang-orang tertentu.
Gejala lupus akibat obat umumnya akan hilang jika Anda berhenti mengonsumsi obat tersebut sehingga Anda tidak perlu menjalani pengobatan khusus. Tetapi jangan lupa untuk selalu berkonsultasi kepada dokter sebelum Anda memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat dengan resep dokter.
SLE tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi tingkat gejala serta mencegah kerusakan organ pada penderita SLE.
Beberapa puluh tahun yang lalu, SLE dipandang sebagai penyakit terminal yang berujung pada kematian. Ketakutan ini disebabkan oleh benyaknya penderita pada saat itu yang meninggal dunia akibat komplikasi dalam kurun waktu 10 tahun setelah didiagnosis mengidap SLE.
Tetapi kondisi pada zaman sekarang sudah jauh lebih baik. Berkat pengobatan SLE yang terus berkembang, hamper semua penderita SLE saat nii dapat hidup normal. Bantuan dan dukungan dari keluarga, teman, serta staf media juga berperan penting dalam membantu para penderita SLE dalam penghadapi penyakit mereka.
Lupus kerap dijuluki sebagi penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru gejala penyakit lain. Kesulitan diagnosis biasanya dapat menyebabkan langkah penanganan yang kurang tepat.
Sekitar sepertiga penderita SLE memiliki kondisi autoimun lain, misalnya penyakit tiroid dan sindrom Sjogren. Kondisi ini dapat berujung pada munculnya komplikasi, termasuk gangguan pada masa kehamilan.
Jika tidak segera ditangani, SLE juga dapat mengakibatkan komplikasi serius termasuk pada penderitanya yang sedang hamil. Selain itu proses pengobatan yang dijalani juga dapat menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi serius.

B.     Gejala
Gejala Lupus eritematosus sistemik (SLE) sangat beragam. Banyak penderita SLE yang hanya merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama lalu tiba-tiba mengalami serangan yang parah.
a)      Gejala utama SLE
Meski gejala SLE bervariasi, ada tiga gejala utama yang umumnya selalu muncul, Antara lain:
1.      Rasa lelah yang ekstrem
Inilah gejala paling umum pada SLE yang sering dikeluhkan para penderita. Rasa lelah yang ekstrem sangat mengganggu dan menghambat aktivitas. Banyak penderita yang menyatakan bahwa gejala ini merupakan dampak negative terbesar dari SLE dalam kehidupan mereka.
Melakukan rutinitas sehari-hari yang sederhana, misalnya tugas rumah tangga, atau rutinitas kantor, dapat membuat penderita SLE sangat lelah. Rasa lelah yang ekstrem tetap muncul bahkan setelah penderita cukup istirahat.
2.      Ruam pada kulit
Yang menjadi ciri khas SLE adalah ruam yang menyebar pada batang hidung dan kedua pipi. Gejala ini dikenal dengan istilah ruam kupu-kupu (butterfly rash) karena bentuknya yang mirip sayap kupu-kupu.
Bagian tubuh lain yang mungkin ditumbuhi ruam adalah tangan dan pergelangan tangan. Ruam pada kulit akibat SLE dapat membekas secara permanen dan bertambah parah jika terpapar sinar matahari akibat reaksi fotosensitivitas.
3.      Nyeri pada persendian
Gejala utama lain dari SLE adalah rasa nyeri. Gejala ini umumnya muncul pada persendian tangan dan kaki penderita. Rasa nyeri juga mungkin dapat berpindah dengan cepat dari sendi satu ke sendi lain.
Tetapi SLE umumnya tidak menyebabkan kerusakan atau cacat permanen pada persendian. Itulah yang membedakan SLE dengan penyakit lain yang juga menyerang persendian.
b)      Gejala-gejala lain yang mungkin menyertai
Tiap penderita SLE merasakan gejala yang berbeda-beda. Ada yang mengalami gejala ringan dan ada yang berat. Ada beragam gejala lain yang dapat muncul selain yang utama. Tetapi tidak semua gejala tersebut akan dialami penderita. Banyak penderita yang hanya mengalami gejala utama.
Berikut adalah gejala-gejala lain yang kemungkinan dialami penderita SLE:
1.      Sariawan yang terus muncul
2.      Demam tinggi (38 C atau lebih)
3.      Tekanan darah tinggi
4.      Pembengkakan kelenjar getah bening
5.      Sakit kepala
6.      Rambut rontok
7.      Mata kering
8.      Sakit dada
9.      Nafas pendek akibat inflamasi paru-paru, dampak ke jantung, atau anemia
10.  Tubuh menyimpan cairan berlebihan sehingga terjadi gejala seperti pembengkakan pada pergelangan kaki
11.  Jari-jari tangan dan kaki yang memutih atau membiru jika terpapar hawa dingin atau karena stress (fenomena Raynaud).

C.     Penyebab
System kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari sumber infeksi (misalnya, bakteri, atau virus) yang masuk. Itulah tujuan tubuh memproduksi antibody.
Tetapi system kekebalan tubuh penderita lupus eritematosus sistemik (SLE) akan berbalik menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat. Inilah yang disebut dengan kondisi autoimun.
Penyebab kondisi ini pada penyakit lupus belum diketahui. Menurut sebagian besar pakar, SLE disebebakan oleh kombinasi dari beberapa penyebab.
Para pakar menduga bahwa ada beberapa factor genetika yang dapat mempertinggi risiko seseorang terkena lupus. Factor-faktor lingkungan juga punya andil dalam memicu penyebab penyakit ini.
a)      Pengaruh genetika
Factor ini dipercaya sebagai salah satu penyebab SLE karena ada penelitian yang membuktikan bahwa jika salah satu anak kembar identic menderita SLE, saudaranya juga memiliki risiko setinggi 25% untuk terkena penyakit yang sama. Bukti lainnya adalah tingkat perkembangan SLE dengan variasi yang signifikan dalam tiap grup etnis.
Mutasi genetika kemungkinan berperan besar sebagai penyebab SLE. Menurut para peneliti, ada beberapa mutasi genetika yang kemungkinan menjadi pemicu meningkatnya risiko SLE. Saat terjadi kekacauan pada perintah normal dari gen tertentu, mutasi genetika akan muncul. Hal ini akan menyebabkan keabnormalan dalam kinerja tubuh.
Gen-gen termutasi umumnya berhubungan dengan fungsi tertentu dari system kekebalan tubuh. mungkin inilah yang menyebabkan system kekebalan tubuh penderita SLE mengalami kerusakan.
Alasan dibalik jumlah penderita lupus wanita lebih banyak dari pria kemungkinan karena sebagian gen termutasi mengandung kromosom X. Kromosom adalah struktur dalam inti sel yang mengandung informasi genetika. Pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X.
b)      Pengaruh lingkungan
Risiko orang-orang yang rentan menderita SLE bisa saja meningkat jika dipicu oleh beberapa factor lingkungan. Meski belum terbukti secara luas, factor-faktor tersebut meliputi:
1.      Perubahan hormone yang terjadi pada wanita, misalnya pada saat pubertas atau hamil
2.      Paparan terhadap sinar matahari
3.      Obat-obatan yang dapat memicu lupus akibat-obat. Jenis lupus ini biasanya akan hilang saat konsumsi obat yang menjadi penyebabnya dihentikan.
Selain factor-faktor di atas, virus Epstein-Barr (EBV) juga dianggap berkaitan dengan SLE. Tetapi yang menjadi masalah adalah infeksi virus ini jarang menunjukkan gejala. Jika ada pun, gejalanya berupa penyakit demam kelenjar.

D.    Diagnosis
Gejala lupus eritematosus sistemik (SLE) kerap mirip dengan penyakit lain yang sangat umum sehingga sulit untuk didiagnosis. Selain itu, gejala yang dialami tiap penderita juga berbeda dan terkadang tidak konsisten. Ada penderita yang mungkin hanya merasakan gejala ringan untuk beberapa waktu atau tiba-tiba bertambah parah pada saat-saat tertentu. Jenis-jenis tes darah yang dapat digunakan:
Ada beberapa jenis tes darah yang biasanya dianjurkan jika dokter mencurigai Anda menderita SLE. Kombinasi dari hasil tes-tes tersebutlah yang dapat membantu mengonfirmasi diagnosis SLE.
a)      Tes antibody anti-nuklir (ANA)
Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan sel antibody tertentu dalam darah, yaitu antibody anti-nuklir. Jenis antibody ini merupakan ciri utama SLE. Sekitar 95% penderita SLE memiliki antibody ini. Tetapi hasil yang positif tidak selalu berarti Anda mengidap SLE, jadi tes antibody anti-nuklir tidak bisa dijadikan patokan untuk penyakit ini. Tes lain juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.
b)      Tes antibody anti-DNA
Tes lain yang digunakan untuk memerika keberadaan antibody tertentu dalam darah adalah tes anti-DNA. Adanya antibody anti-DNA dalam darah akan meningkatkan risiko Anda terkena SLE.
Jumlah antibody anti-DNA akan meningkat saat SLE bertambah aktif. Karena itu, hasil tes Anda akan meningkat drastic saat Anda mengalami serangan yang parah. Tetapi orang-orang yang tidak menderita SLE juga dapat memiliki antibody ini.
c)      Tes komplemen C3 dan C4
Dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan tingkat komplemen dalam darah untuk mengecek keaktifan SLE. Komplemen adalah senyawa dalam darah yang membentuk sebagian system kekebalan tubuh. level komplemen dalam darah akan menurun seiring aktifnya SLE Anda.
d)     Pemeriksaan lanjut yang dianjurkan setelah diagnosis SLE positif
Penderita SLE memliki risiko untuk terkena penyakit lain, misalnya gangguan ginjal atau anemia. Karena itu pemantauan rutin untuk melihat dampak SLE pada tubuh orang yang positif mengidap SLE sangat dibutuhkan.
Proses ini akan membantu dokter untuk memantau penyakit-penyakit lain yang mungkin muncul sehingga dapat segera ditangani. Pemeriksaan lain yang mungkin Anda butuhkan untuk mengecek dampak SLE pada organ dalam adalah rontgen, USG dan CT-Scan.

E.     Pengobatan
Lupus eritematosus sistemik (SLE) tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatan yang tersedia adalah untuk mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ dalam, serta meminimalkan dampaknya pada kehidupan penderita SLE.

a)      Menghindari paparan sinar matahari
Melindungi kulit dari sinar matahari sangatlah penting bagi penderita SLE. Ruam pada kulit yang dialami penderita SLE dapat bertambah parah jika terpapar sinar matahari. Langkah yang dapat dilakukan adalah:
·         Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh bagian kulit
·         Memakai topi dan kacamata hitam
·         Mengoleskan tabir surya berdosis tinggi agar kulit tidak terbakar matahari
Meski demikian, tidak semua oenderita lupus sensitive terhadap sinar matahari. Ada juga yang tidak perlu menerapkan langkah-langkah di atas.
Pengobatan khusus mungkin tidak dibutuhkan penderita SLE dengan gejala ringan, tetapi mereka umumnya tetap memerlukan obat-obatan untuk menangani gejalanya. Berikut adalah obat-obatan yang mungkin dibutuhkan oleh penderita SLE.
b)      Obat anti inflamasi nonsteroid
Nyeri sendi atau otot merupakan salah satu gejala utama SLE. Dokter mungkin akan memberi obat anti inflamasi nonsteroid untuk mengurangi gejala ini.
Obat anti inflamasi nonsteroid adalah pereda sakit yang dapat mengurangi inflamasi yang terjadi pada tubuh. jenis obat yang umumnya diberikan dokter pada penderita SLE meliputi ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxicam.
Jenis obat ini (terutama ibuprofen) sudah dijual bebas dan dapat mengobati nyeri sendi atau otot yang ringan. Tetapi Anda membutuhkan obat dengan resep dokter jika mengalami nyeri sendi atau otot yang lebih parah.
Penderita SLE juga sebaiknya waspada karena obat ini tidak cocok jika mereka sedang atau pernah mengalami gangguan lambung, ginjal, atau hati. Obat ini juga mungkin tidak cocok untuk penderita asma.
Selain itu, anak-anak di bawah 16 tahun sebaiknya tidak meminum aspirin. Konsultasikan kepada dokter untuk menemukan obat anti inflamasi nonsteroid yang cocok untuk Anda.
Konsumsi obat anti inflamasi nonsteroid dosis tinggi atau jangka panjang dapat mengakibatkan pendarahan dalam karena rusaknya dinding lambung. Karena itu, dokter akan memantau kondisi penderita SLE yang harus mengkonsumsinya untuk jangka panjang dengan cermat. Jika komplikasi ini memang terjadi, dokter akan menganjurkan pilihan lain.
c)      Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengurangi inflamasi dengan cepat dan efektif. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter jika penderita SLE mengalami gejala atau serangan yang parah.
Untuk mengendalikan gejala serta serangan, tahap awal pemberian obat ini mungkin akan berdosis tinggi. Lalu dosisnya diturunkan secara bertahap seiring kondisi penderita yang membaik.
Kortikosteroid selalu diberikan dengan dosis terendah yang efektif. Dosis tinggi serta konsumsi jangka panjang obat ini dapat menyebabkan efek samping yang meliputi penipisan tulang, penipisan kulit, bertambahnya berat badan, dan peningkatan tekanan darah tinggi.
Cara meminimalisir efek samping steroid adalah dengan menyesuaikan dosis steroid dengan aktivitas penyakit sambil mengendalikannya secara efektif. Selama Anda mengikuti resep dan diawasi oleh dokter, kortikosteroid termasuk obat yang aman untuk digunakan.
d)     Hydroxychloroquine
Selain pernah digunakan untuk menangani malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa gejala utama SLE, diantaranya:
·         Nyeri sendi dan otot
·         Kelelahan
·         Ruam pada kulit
Dokter spesialis umumnya menganjurkan konsumsi obat ini untuk jangka panjang bagi penderita SLE. Tujuannya adalah untuk:
·         Mencegah serangan yang parah
·         Mengendalikan gejala
·         Mencegah perkembangan komplikasi yang lebih serius
Keefektifan hydroxychloroquine biasa akan dirasakan penderita SLE setelah mengonsumsinya selama 1,5-3 bulan.
Tetapi semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk hydroxychloroquine. Di antaranya adalah gangguan pencernaan, diare, sakit kepala, dan ruam pada kulit.
Obat ini juga memiliki efek samping yang lebih serius, tetapi sangat jarang terjadi. Contohnya diperkirakan terdapat risiko 1:2000 di Antara penderita SLE yang mengonsumsi obat ini yang mungkin mengalami kerusakan mata. Karena sangat jarang, pemeriksaan mata secara umum tidak diharuskan untuk semua penderita lupus yang mengonsumsi obat ini.
Segera konsultasikanlah kepada dokter jika Anda mengalami gangguan penglihatan selama mengonsumsi hydroxychloroquine.
e)      Obat imunosupresan
Cara kerja obat ini adalah dengan menekan kinerja system kekebalan tubuh. ada beberapa jenis imunosupresan yang biasanya diberikan dengan resep dokter, yaitu azathioprine, ,ucophenolate mofetil, dan cyclophosphamide.
Imunosupresan akan meringankan gejala SLE dengan membatasi kerusakan pada bagian-bagian tubuh yang sehat akibat serangan system kekebalan tubuh. obat ini juga terkadang diberikan bersamaan dengan kortikosteroid. Jika dikombinasikan, keduanya dapat meringankan gejala SLE dengan lebih efektif. Penggunaan imunosupresan juga kemungkinan dapat mengurangi dosis kortikosteroid yang dibutuhkan penderita.
Imunosupresan termasuk obat yang sangat keras dan dapat menyebabkan efek samping sebagai berikut: muntah, kehilangan nafsu makan, pembengkakan gusi, diare, kejang-kejang, mudah lebam atau berdarah, sakit kepala, bertambahnya berat badan, pertumbuhan rambut berlebihan.
Karena itu, obat ini biasanya diberikan dengan resep dokter hanya untuk penderita SLE yang mengalami gejala atau serangan yang parah. Segera konsultasikan kepada dokter jika ada efek samping yang terasa lebih mengganggu daripada manfaatnya. Dosis Anda mungkin perlu disesuaikan.
Tiap jenis imunosupresan menyebabkan efek samping yang berbeda-beda. Misalnya mycophenolate dan cyclophocphamide dapat menyebabkan cacat lahir. Karena itu, penderita SLE wanita yang menggunakan kedua jenis obat ini dan aktif secara seksual dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang terjamin keampuhannya.
Bagi penderita SLE wanita yang berniat untuk punya anak. Anda dianjurkan untuk memilih obat lain (misalnya azathioprine). Anda juga dianjurkan untuk mengonsultasikan terlebih dulu kepada dokter spesialis.
Kehamilan sebaiknya direncanakan pada saat gela SLE Anda berkurang (masa remisi). Pemantauan seksama dari sokter spesialis serta dokter kandungan selama masa kehamilan berlangsung juga sangat penting. Risiko terjadinya infeksi akan meningkat seiring dengan kinerja system kekebalan tubuh yang ditekan. Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gangguan gejala infeksi karena Anda mungkin membutuhkan penanganan secepatnya untuk mencegah komplikasi yang serius.
Gejala infeksi terkadang mirip dengan serangan lupus dan meliputi:
·         Serangan batuk yang disertai dahak atau nafas terengah-engah
·         Demam tinggi (38C atau lebih)
·         Sensasi terbakar yang terasa saat buang air kecil
·         Kencing darah (hematuria)
Hindarilah kontak dengan orang yang sedang mengalami infeksi seringan apapun atau walau Anda sudah memiliki kekebalan tubuh terhadap infeksi tersebut misalnya cacar air atau campak. Penularan tetap mungkin terjadi karena kinerja system kekebalan tubuh Anda sedang menurun karena ditekan oleh obat imunosupresan.
Imunosupresan juga dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Karena itu, Anda membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan tes darah secara rutin selama menggunakan imunosupresan.
f)       Rituximab
Jika obat-obat lain tidak mempan bagi penderita SLE, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat ini termasuk jenis baru dan awalnya dikembangkan untuk menangani kanker darah tertentu, misalnya limfoma. Tetapi rituximab terbukti efektif untuk menangani penyakit autoimun, seperti SLE dan artritis rheumatoid.
Cara kerja rituximab adalah dengan mengincar dan membunuh sel B. ini adalah sel yang memproduksi antibody yang menjadi pemicu gejala SLE. Obat ini akan dimasukkan melalui infus yang akan berlangsung selama beberapa jam. Selama proses pengobatan ini berlangsung, kondisi Anda akan dipantau dengan cermat.
Efek samping yang umum dari rituximab meliputi pusing, muntah, dan gejala yang mirip flu (misalnya menggigil dan demam tinggi selama pengobatan berlangsung). Efek samping lain yang mungkin terjadi (meski sangat jarang) adalah reaksi alergi. Reaksi ini umumnya muncul selama pengobatan berlangsung atau tidak lama setelahnya.

F.      Komplikasi
SLE yang ringan atau terkendali dengan baik biasa tidak terlalu menghambat rutinitas sehari-hari penderitanya. Risiko komplikasi juga mungkin akan menurun.
Seiring bertambahnya usia, gejala SLE mungkin akan banyak berkurang. Penderita SLE yang berusia di atas 50 tahun umumnya mengalami hal ini. Diantara penderita SLE wanita juga ada sebagian yang mengku kondisinya membaik setelah mengalami masa menopause. Tetapi anda harus tetap waspada jika menderita SLE. Risiko munculnya kondisi serius dan komplikasi yang mematikan tetap ada.
a)      SLE dan komplikasi penyakit kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular adalah istilah umum untuk semua jenis penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah, seperti stroke, serangan jantung, dan tekanan darah tinggi. Selain itu, beberapa penderita SLE juga bisa mengalami radang pada kantung yang membungkus jantung (pericarditis) atau pada otot-otot jantung (miokarditis).
SLE dapat menyebabkan inflamasi pada jantung dan pembuluh darah. Karena itu, penderita SLE diperkirakan memiliki risiko 6-8 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular. Risiko ini dapat dikurangi melalui langkah-langkah berikut:
·         Berolahraga secara teratur. Setidaknya 2,5 jam dalam seminggu dengan jenis olahraga yang dapat membuat nafas Anda sedikit terengah-engah.
·         Menjaga berat badan yang ideal dan sehat
·         Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. Misalnya makanan rendah lemak jenuh, rendah gula, rendah garam, banyak buah, dan sayuran setidaknya lima porsi dalam sehari.
·         Berhenti merokok
·         Membatasi konsumsi minuman keras.
b)      SLE dan komplikasi nefritis lupus
Inflamasi yang terjadi pada ginjal untuk waktu yang lama akibat SLE memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit ginjal yang serius. Komplikasi ini disebut nefritis lupus.
Diperkirakan sekitar 50% di antara penderita SLE yang mengidap nefritis lupus. Penyakit ini juga cenderung berkembang pada tahap awal SLE (biasanya dalam lima tahun pertama). Tes darah biasanya akan dianjurkan untuk memantau kondisi ginjal Anda secara seksama. Beberapa gejala lupus nefritis meliputi:
·         Rasa gatal
·         Sakit dada
·         Mual
·         Muntah
·         Sakit kepala, pusing
·         Sering buang air kecil
·         Kencing darah
·         Pembengkakan pada kaki
Nefritis lupus sering tidak menunjukan gejala, tetapi Anda sebaiknya tetap waspada. Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.
Tekanan darah tinggi juga dapat disebabkan oleh penyakit ini. Jika tidak ditangani, tekanan darah tinggi akan mempertinggi risiko penyakit jantung yang serius (misalnya, serangan jantung atau angina).
Penanganan untuk lupus nefritis dapat dilakukan dengan imunosupresan, misalnya azathioprine, mycophenolate mofetil, atau cyclophosphamide.
c)      Risiko penyakit autoimun yang lainnya
Tingkat risiko penderita SLE yang dapat mengidap penyakit autoimun lain diperkirakan sekitar 30%. Di antaranya adalah penyakit tiroid, sindrom Sjogren, atau sindrom Hughes (sindrom antifosfolipid).
d)     Sindrom Sjogren pada penderita SLE
Sindom Sjigren dapat terjadi pada sekitar 12% penderita SLE. Penyakit ini menyerang dan merusak kelenjar liur dan air mata. Gejala utama pada kelainan system kekebalan tubuh ini adalah mata dan mulut yang kering.
e)      Sindrom Hughes (sindrom antifosfolipid) pada penderita SLE
Sindrom Hughes dapat mempertinggi risiko terjadinya penggumpalan darah pada arteri dan vena. Penggumpalan darah pada arteri dapat menyebabkan stroke dan serangan jantung. Sedangkan jika terjadi pada vena, penggumpalan darah dapat mengakibatkan thrombosis vena dalam. Penyakit ini juga berbahaya bagi ibu hamil karena dapat mempertinggi risiko komplikasi selama masa kehamilan.
Diagnosis untuk sindrom Hughes para penderita SLE dapat dilakukan dengan memeriksaa keberadaan:
·         Komplikasi yang berhubungan dengan pembuluh darah dan/atau kehamilan
·         Antibody antifosfolipid dalam darah
f)       SLE dan kehamilan
SLE biasanya memang tidak memengaruhi kesuburan (fertilitas). Tetapi penderita SLE wanita (terutama yang mengidap sindrom Hughes) sebaiknya tetap waspada karena komplikasi umumnya terjadi pada masa kehamilan mereka. Di antaranya adalah pre-eklampsia, kelahiran premature, keguguran, dan kelahiran mati.
Dokter biasanya akan menganjurkan obat-obatan untuk mengurangi kecenderungan penggumpalan darah. Penanganan dengan aspirin dan suntikan heparin dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan untuk pasien sindrom Hughes.
Risiko lain yang mungkin terjadi adalah serangan gejala lupus pada masa kehamilan, misalnya:
·         Pembengakakan pada kaki dan tangan
·         Rambut rontok
·         Wajah memerah
·         Nyeri otot, tulang, dan sendi
Obat-obatan yang kualitasnya terjamin tidak akan memengaruhi ibu serta bayi. Tetapi ada beberapa jenis obat yang dinilai aman digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya serangan SLE pada masa kehamilan. Di antaranya adalah hydroxychloroquine (obat anti-malaria), azathioprine (imunosupresan), dan prednisolone (kortikosteroid).
Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan agar mengurangi risiko komplikasi pada masa kehamilan. Anda biasanya diminta untuk menunggu selama enam bulan  tanpa mengalami serangan SLE dan memiliki tingkat fungsi ginjal yang normal atau mendekati normal sebelum hamil.


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian Keperawatan
1.      Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, demam, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta citra diri pasien.
2.      Kulit, ruam erythematosus, plak erythematosus pada kulit muka atau leher.
3.      Kardiovaskular friction rubperikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura. Lesi erythematosus papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan vaskuler terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan.
4.      System musculoskeletal, pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak.
5.      System integument. Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.
6.      System pernafasan. Pleuritis atau efusi pleura.
7.      System vaskuler. Inflamasi pada arteriol terminalis yang menimbulkan lesi papuler, erythematosus dan purpura di ujung kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.
8.      System renal. Edema dan hematuria.
9.      System saraf. Sering terjadi depresi dan psikosis, atau manisfestasi SPP lainnya.

B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan bagi penderita LES adalah sebagai berikut:
a.       Nyeri kronik berhubungan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan
b.      Gangguan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit dan lesi
c.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan komplikasi sekunder terhadap LES

C.    Intervensi Keperawatan dan Rasional Tindakan
Intervensi keperawatan dan rasional tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a)      Nyeri kronik berhubungan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat : mengungkapkan keluhan/hilangnya berkurangnya nyeri, menunjukkan posisi eskpresi wajah rileks, dapat beristirahat dan mendapatkan pola tidur yang adekuat.
No
Intervensi
Rasional
1
Pertahankan suhu lingkungan nyaman, berikan lampu penghamngat, penutup tubuh hangat.
Sumber panas eksternal perlu untuk mencegah menggigil.
2
Kaji keluhan nyeri. Perhatikan lokasi/karakter dan intensitas (skala 0-10).
Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan/kerusakan tetapi biasanya paling berat selama penggantian balutan dan debridemen.
3
Lakukan penggantian balutan dan debridemen setelah pasien diberi obat dan/atau pada hidroterapi.
Menurunkan terjadinya distress fisik dan emosi sehubungan dengan penggantian balutan dan debridemen.
4
Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri.
Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping.
5
Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam,  bimbingan imajinasi dan visualisasi.
Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi dan meningkatkan rasa control yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis.
6
Berikan aktivitas terapetik tepat untuk usia/kondisi.
Membantu mengurangi konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan kembali perhatian.
(Gusti Pandi Liputo, 2012)

b)      Gangguan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit dan lesi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat menunjukkan perilaku/teknik untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi dengan kriteria: menjaga kebersihan di daerah lesi, memakai alat pelindung kulit yang dapat menyebabkan iritasi atau infeksi berulang.
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi, dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahan.
Menentukan garis dasar, menentukan di mana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat.
2
Pertahankan/instruksikan dalam hygiene. Misalnya, membasuh dan kemudian mengeringkannya dengan berhati-hati dan melakukan massage dengan menggunakan lotion atau krim.
Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barrier infeksi.
3
Gunting kuku secara teratur
Kuku yang panjang dan kasar meningkatkan risiko kerusakan dermal.
4
Tutupi luka tekan yang terbuka dengan pembalut steril atau barrier protektif. Misalnya, duoderm, sesuai petunjuk.
Dapat mengurangi kontaminasi bakteri. Meningkatkan proses penyembuhan.
(Gusti Pandi Liputo, 2012)

c)      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan komplikasi sekunder terhadap LES
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat melakukan aktivitas dengan baik.
No
Intervensi
Rasional
1
Evaluasi rutinitas harian pasien. Bantu perencanaan jadwal setiap hari untuk aktivitas yang meliputi periode istirahat sering.
Istirahat membantu menyeimbangkan energy tubuh. keseimbangan aktivitas fisik pada istirahat membantu mengontrol kelelahan dan peningkatan ketahanan.
2
Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diresepkan untuk anemia.
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
3
Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan rentang-rentang gerak sendi aktif/pasif.
Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
4
Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat, contoh menonton TV, mendengarkan radio, dan membaca.
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energy. Memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
(Gusti Pandi Lupito, 2012)


















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penyakit lupus dalam ilmu kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE adalah penyakit radang yang menyerang  banyak system dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai adanya antibody yang menyerang tubuhnya sendiri.
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi Antara factor-faktor genetic, hormonal, dan lingkungan.
Pada umumnya, penderita SLE yang tidak mengancam nyawa dan tidak berhubungan dengan kerusakan organ vital dapat diterapi secara konservatif. Salah satu bagian dari pengobatan SLE yang tidak boleh terlupakan adalah memberikan penjelasan  kepada penderita mengenai penyakit yang dideritanya, sehingga penderita dapat bersikap positif terhadap terapi yang akan dijalaninya.

B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa untuk mendalami dan memahami tentang penyakit Lupus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar