BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Penyakit lupus adalah penyakit yang mematikan setara
dengan kanker. Tidak sedikit pengidap penyakit ini tidak tertolong lagi, di
dunia terdeteksi penyandang penyakit lupus mencapai 5 juta orang dan lebihdari
100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.
Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan
menjaga tetap sehat. Namun, apa jadinya jika kekebalan tubuh justru menyerang
organ tubuh yang sehat. Penyakit lupus diduga berkaitan dengan system imunologi
yang berlebih. Penyakit ini tergolong misterius. Dokter kadang bingung
mendiagnosis penyakit ini. Jumlah penderita lupus ini tidak terlalu banyak.
Menurut data pustaka di Amerika Serikat ditemukan 14,6 sampai 50,8 per 100.000.
Di Indonesia bias dijumpai sekitar 50.000 penderitanya. Sedangkan di RS
Ciptomangunkusumo Jakarta, dan 71 kasus
yang ditangani sejak awal 1991 sampai akhir 1996, 1 dari 23 penderitanya adalah
laki-laki. Saat ini, ada sekitar 5 juta pasien lupus di seluruh dunia dan
setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak, dewasa,
laki-laki, dan perempuan.
Penyakit lupus masih awam bagi masyarakat. Penyakit
lupus biasanya menyerang wanita produktif. Meski kulit wajah penderita lupus
dan sebagian tubuh lainnya muncul bercak-bercak merah, tetapi penyakit ini
tidak menular. Terkadang kita meremehkan rasa nyeri pada persendian, seluruh
organ tubuh terasa sakit atau terjadi kelainan pada kulit, atau tubuh merasa
kelelahan berkepanjangan serta sensitive terhadap sinar matahari. Semua itu merupakan
sebagian dari gejala penyakit lupus.
Factor yang diduga sangat berperan terserang penyakit
lupus adalah factor lingkungan, seperti paparan sinar matahari, stress,
beberapa jenis obat, dan virus. Oleh karena itu, bagi para penderita lupus
dianjurkan keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00. saat
bepergian, penderita memakai sun block atau sun screen (pelindung kulit dari
sengatan sinar matahari) pada bagian kulit yang akan terpapar.
B. Rumusan
Masalah
Dari
latar belakang tersebut telah kita ketahui pembahasan yang akan dibicarakan
dalam makalah ini ialah tentang Lupus, yakni
sebagai berikut:
1. Apa
pengertian dari Lupus?
2. Apa
saja gejala-gejala dari Lupus?
3. Apa
yang menjadi penyebab timbulnya Lupus?
4.
Bagaimana diagnosis bagi penderita Lupus/
5.
Apa saja pengobatan bagi penderita Lupus?
6.
Apa saja komplikasi yang dapat terjadi?
C.
Tujuan
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa atau pembaca mampu:
1. Mendeskripsikan
pengertian dari penyakit Lupus
2. Mendeskripsikan
gejala-gejala yang timbul akibat penyakit Lupus
3. Mendeskripsikan
penyebab timbulnya penyakit Lupus
4. Mendeskripsikan
diagnosis untuk penyakit Lupus
5. Mendeskripsikan
pengobatan untuk penyakit Lupus
6. Mendeskripsikan
komplikasi yang dapat terjadi bagi penderita Lupus
D. Sistematika
Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab
yang tersusun secara sistematis dengan penjelasan sebagai berikut :
BAB
I : PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar
belakang, masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB
II : PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan
konsep dasar yang meliputi : pengeetian, gejala, penyebab, diagnosis,
pengobatan, komplikasi.
BAB III : PENUTUP
Bab ini membahas tentang kesimpulan
dan saran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Lupus
dalam Bahasa latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar
saru abad lalu. Awalnya penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit,
berupa kemerahan disekitar hidung dan pipi. Bercak-bercak merah di bagian wajah
dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan, rambutnya rontok, persendian
kerap bengkak, dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit,
tetapi juga dapat menyerang hamper seluruh organ yang ada dalam tubuh. dr.
rahmat Gunadi dari Fakultas Kedokteran UNPAD menjelaskan, penyakit lupus adalah
penyakit system imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing.
Reaksi system imunitas bias mengenai berbagai system organ tubuh seperti
jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, system saraf, system kardiovaskular,
paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, system pencernaan, mata, otak, maupun
pembuluh darah, dan sel-sel darah. (Anonim, 2009)
Buku
kecil Care for Lupus (Syamsi Dhuha) menjelaskan, lupus adalah sebutan umum dari
suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus. Dalam istilah
sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit lupus Erythematosus
saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri.
Penyakit
lupus adalah penyakit inflamasi kronik yang diperantarai oleh system imun, di
mana seharusnya system ini melindungi tubuh dari berbagai penyakit justru
sebaliknya menyerang tubuh itu sendiri.
Penyakit
autoimun adalah istilah yang digunakan saat system imunitas atau kekebalan
tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Penyebab kondisi autoimun pada
lupus belum diketahui. System kekebalan tubuh penderita lupus akan menyerang
sel, jaringan dan organ yang sehat. Ada juga yang menganggap pemicu penyebab
munculnya penyakit lupus pada beberapa orang adalah karena pengaruh factor
genetika dan lingkungan.
Penyakit lupus terbagi
dalam beberapa tipe, Antara lain:
a) Lupus
eritematosus sistemik (SLE)
Lupus erythematosus
sistemik adalah jenis lupus yang paling sering dirujuk masyarakat umum sebagai
penyakit lupus. SLE dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan
tingkat gejala yang ringan sampai parah. Gejala SLE juga dapat dating dengan
tiba-tiba atau berkembang secara perlahan-lahan dan dapat bertahan lama atau
bersifat lebih sementara sebelum akhirnya kambuh lagi.
Banyak yang hanya
merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama atau bahkan tidak sama sekali
sebelum tiba-tiba mengalami serangan yang parah. Gejala-gejala ringan SLE,
terutama rasa nyeri dan lelah berkepanjangan, dapat menghambat rutinitas
kehidupan. Karena itu, para penderita SLE bias merasa tertekan, depresi, dan
cemas meski hanya mengalami gejala ringan.
b) Lupus
eritematosus discoid (DLE)
Jenis lupus yang hanya
menyerang kulit disebut lupus eritematosus discoid (DLE). Meski umumnya
berdampak pada kulit saja, jenis lupus ini juga dapat menyerang jaringan serta
organ tubuh yang lain.
DLE biasanya dapat
dikendalikan dengan menghindari paparan sinar matahari langsung dan
obat-obatan. Gejala DLE diantaranya:
·
Rambut rontok
·
Pitak permanen
·
Ruam merah dan bulat seperti sisik pada
kulit yang terkadang akan menebal dan menjadi bekas luka
c) Lupus
akibat penggunaan obat
Efek samping obat pasti
berbeda-beda pada tiap orang. Terdapat lebih dari 100 jenis obat yang dapat
menyebabkan efek samping yang mirip dengan gejala lupus pada orang-orang
tertentu.
Gejala lupus akibat obat
umumnya akan hilang jika Anda berhenti mengonsumsi obat tersebut sehingga Anda
tidak perlu menjalani pengobatan khusus. Tetapi jangan lupa untuk selalu
berkonsultasi kepada dokter sebelum Anda memutuskan untuk berhenti mengonsumsi
obat dengan resep dokter.
SLE tidak bisa
disembuhkan. Tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi tingkat gejala serta
mencegah kerusakan organ pada penderita SLE.
Beberapa puluh tahun yang
lalu, SLE dipandang sebagai penyakit terminal yang berujung pada kematian.
Ketakutan ini disebabkan oleh benyaknya penderita pada saat itu yang meninggal
dunia akibat komplikasi dalam kurun waktu 10 tahun setelah didiagnosis mengidap
SLE.
Tetapi kondisi pada zaman
sekarang sudah jauh lebih baik. Berkat pengobatan SLE yang terus berkembang,
hamper semua penderita SLE saat nii dapat hidup normal. Bantuan dan dukungan
dari keluarga, teman, serta staf media juga berperan penting dalam membantu
para penderita SLE dalam penghadapi penyakit mereka.
Lupus kerap dijuluki
sebagi penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru gejala penyakit
lain. Kesulitan diagnosis biasanya dapat menyebabkan langkah penanganan yang
kurang tepat.
Sekitar sepertiga
penderita SLE memiliki kondisi autoimun lain, misalnya penyakit tiroid dan
sindrom Sjogren. Kondisi ini dapat berujung pada munculnya komplikasi, termasuk
gangguan pada masa kehamilan.
Jika tidak segera
ditangani, SLE juga dapat mengakibatkan komplikasi serius termasuk pada
penderitanya yang sedang hamil. Selain itu proses pengobatan yang dijalani juga
dapat menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi serius.
B. Gejala
Gejala
Lupus eritematosus sistemik (SLE) sangat beragam. Banyak penderita SLE yang
hanya merasakan beberapa gejala ringan untuk waktu lama lalu tiba-tiba
mengalami serangan yang parah.
a) Gejala
utama SLE
Meski gejala SLE
bervariasi, ada tiga gejala utama yang umumnya selalu muncul, Antara lain:
1. Rasa
lelah yang ekstrem
Inilah gejala paling umum
pada SLE yang sering dikeluhkan para penderita. Rasa lelah yang ekstrem sangat
mengganggu dan menghambat aktivitas. Banyak penderita yang menyatakan bahwa
gejala ini merupakan dampak negative terbesar dari SLE dalam kehidupan mereka.
Melakukan rutinitas
sehari-hari yang sederhana, misalnya tugas rumah tangga, atau rutinitas kantor,
dapat membuat penderita SLE sangat lelah. Rasa lelah yang ekstrem tetap muncul
bahkan setelah penderita cukup istirahat.
2. Ruam
pada kulit
Yang menjadi ciri khas
SLE adalah ruam yang menyebar pada batang hidung dan kedua pipi. Gejala ini
dikenal dengan istilah ruam kupu-kupu (butterfly rash) karena bentuknya yang
mirip sayap kupu-kupu.
Bagian tubuh lain yang
mungkin ditumbuhi ruam adalah tangan dan pergelangan tangan. Ruam pada kulit
akibat SLE dapat membekas secara permanen dan bertambah parah jika terpapar
sinar matahari akibat reaksi fotosensitivitas.
3. Nyeri
pada persendian
Gejala utama lain dari
SLE adalah rasa nyeri. Gejala ini umumnya muncul pada persendian tangan dan
kaki penderita. Rasa nyeri juga mungkin dapat berpindah dengan cepat dari sendi
satu ke sendi lain.
Tetapi SLE umumnya tidak
menyebabkan kerusakan atau cacat permanen pada persendian. Itulah yang
membedakan SLE dengan penyakit lain yang juga menyerang persendian.
b) Gejala-gejala
lain yang mungkin menyertai
Tiap
penderita SLE merasakan gejala yang berbeda-beda. Ada yang mengalami gejala
ringan dan ada yang berat. Ada beragam gejala lain yang dapat muncul selain
yang utama. Tetapi tidak semua gejala tersebut akan dialami penderita. Banyak
penderita yang hanya mengalami gejala utama.
Berikut adalah
gejala-gejala lain yang kemungkinan dialami penderita SLE:
1. Sariawan
yang terus muncul
2. Demam
tinggi (38 C atau lebih)
3. Tekanan
darah tinggi
4. Pembengkakan
kelenjar getah bening
5. Sakit
kepala
6. Rambut
rontok
7. Mata
kering
8. Sakit
dada
9. Nafas
pendek akibat inflamasi paru-paru, dampak ke jantung, atau anemia
10. Tubuh
menyimpan cairan berlebihan sehingga terjadi gejala seperti pembengkakan pada
pergelangan kaki
11. Jari-jari
tangan dan kaki yang memutih atau membiru jika terpapar hawa dingin atau karena
stress (fenomena Raynaud).
C. Penyebab
System
kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari sumber infeksi (misalnya,
bakteri, atau virus) yang masuk. Itulah tujuan tubuh memproduksi antibody.
Tetapi system kekebalan
tubuh penderita lupus eritematosus sistemik (SLE) akan berbalik menyerang sel,
jaringan, dan organ tubuh yang sehat. Inilah yang disebut dengan kondisi
autoimun.
Penyebab
kondisi ini pada penyakit lupus belum diketahui. Menurut sebagian besar pakar,
SLE disebebakan oleh kombinasi dari beberapa penyebab.
Para pakar menduga bahwa
ada beberapa factor genetika yang dapat mempertinggi risiko seseorang terkena
lupus. Factor-faktor lingkungan juga punya andil dalam memicu penyebab penyakit
ini.
a) Pengaruh
genetika
Factor ini dipercaya
sebagai salah satu penyebab SLE karena ada penelitian yang membuktikan bahwa
jika salah satu anak kembar identic menderita SLE, saudaranya juga memiliki
risiko setinggi 25% untuk terkena penyakit yang sama. Bukti lainnya adalah
tingkat perkembangan SLE dengan variasi yang signifikan dalam tiap grup etnis.
Mutasi genetika
kemungkinan berperan besar sebagai penyebab SLE. Menurut para peneliti, ada
beberapa mutasi genetika yang kemungkinan menjadi pemicu meningkatnya risiko
SLE. Saat terjadi kekacauan pada perintah normal dari gen tertentu, mutasi
genetika akan muncul. Hal ini akan menyebabkan keabnormalan dalam kinerja
tubuh.
Gen-gen termutasi umumnya
berhubungan dengan fungsi tertentu dari system kekebalan tubuh. mungkin inilah
yang menyebabkan system kekebalan tubuh penderita SLE mengalami kerusakan.
Alasan dibalik jumlah
penderita lupus wanita lebih banyak dari pria kemungkinan karena sebagian gen
termutasi mengandung kromosom X. Kromosom adalah struktur dalam inti sel yang
mengandung informasi genetika. Pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom
Y, sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X.
b) Pengaruh
lingkungan
Risiko orang-orang yang
rentan menderita SLE bisa saja meningkat jika dipicu oleh beberapa factor
lingkungan. Meski belum terbukti secara luas, factor-faktor tersebut meliputi:
1. Perubahan
hormone yang terjadi pada wanita, misalnya pada saat pubertas atau hamil
2. Paparan
terhadap sinar matahari
3. Obat-obatan
yang dapat memicu lupus akibat-obat. Jenis lupus ini biasanya akan hilang saat
konsumsi obat yang menjadi penyebabnya dihentikan.
Selain factor-faktor di
atas, virus Epstein-Barr (EBV) juga dianggap berkaitan dengan SLE. Tetapi yang
menjadi masalah adalah infeksi virus ini jarang menunjukkan gejala. Jika ada
pun, gejalanya berupa penyakit demam kelenjar.
D. Diagnosis
Gejala
lupus eritematosus sistemik (SLE) kerap mirip dengan penyakit lain yang sangat
umum sehingga sulit untuk didiagnosis. Selain itu, gejala yang dialami tiap
penderita juga berbeda dan terkadang tidak konsisten. Ada penderita yang
mungkin hanya merasakan gejala ringan untuk beberapa waktu atau tiba-tiba
bertambah parah pada saat-saat tertentu. Jenis-jenis tes darah yang dapat
digunakan:
Ada
beberapa jenis tes darah yang biasanya dianjurkan jika dokter mencurigai Anda
menderita SLE. Kombinasi dari hasil tes-tes tersebutlah yang dapat membantu
mengonfirmasi diagnosis SLE.
a) Tes
antibody anti-nuklir (ANA)
Tes ini digunakan untuk
memeriksa keberadaan sel antibody tertentu dalam darah, yaitu antibody
anti-nuklir. Jenis antibody ini merupakan ciri utama SLE. Sekitar 95% penderita
SLE memiliki antibody ini. Tetapi hasil yang positif tidak selalu berarti Anda
mengidap SLE, jadi tes antibody anti-nuklir tidak bisa dijadikan patokan untuk
penyakit ini. Tes lain juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.
b) Tes
antibody anti-DNA
Tes lain yang digunakan
untuk memerika keberadaan antibody tertentu dalam darah adalah tes anti-DNA.
Adanya antibody anti-DNA dalam darah akan meningkatkan risiko Anda terkena SLE.
Jumlah antibody anti-DNA
akan meningkat saat SLE bertambah aktif. Karena itu, hasil tes Anda akan
meningkat drastic saat Anda mengalami serangan yang parah. Tetapi orang-orang
yang tidak menderita SLE juga dapat memiliki antibody ini.
c) Tes
komplemen C3 dan C4
Dokter mungkin akan
menganjurkan pemeriksaan tingkat komplemen dalam darah untuk mengecek keaktifan
SLE. Komplemen adalah senyawa dalam darah yang membentuk sebagian system
kekebalan tubuh. level komplemen dalam darah akan menurun seiring aktifnya SLE
Anda.
d) Pemeriksaan
lanjut yang dianjurkan setelah diagnosis SLE positif
Penderita SLE memliki
risiko untuk terkena penyakit lain, misalnya gangguan ginjal atau anemia.
Karena itu pemantauan rutin untuk melihat dampak SLE pada tubuh orang yang
positif mengidap SLE sangat dibutuhkan.
Proses ini akan membantu
dokter untuk memantau penyakit-penyakit lain yang mungkin muncul sehingga dapat
segera ditangani. Pemeriksaan lain yang mungkin Anda butuhkan untuk mengecek
dampak SLE pada organ dalam adalah rontgen, USG dan CT-Scan.
E. Pengobatan
Lupus
eritematosus sistemik (SLE) tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatan yang
tersedia adalah untuk mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ
dalam, serta meminimalkan dampaknya pada kehidupan penderita SLE.
a) Menghindari
paparan sinar matahari
Melindungi kulit dari
sinar matahari sangatlah penting bagi penderita SLE. Ruam pada kulit yang
dialami penderita SLE dapat bertambah parah jika terpapar sinar matahari.
Langkah yang dapat dilakukan adalah:
·
Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh
bagian kulit
·
Memakai topi dan kacamata hitam
·
Mengoleskan tabir surya berdosis tinggi
agar kulit tidak terbakar matahari
Meski demikian, tidak
semua oenderita lupus sensitive terhadap sinar matahari. Ada juga yang tidak
perlu menerapkan langkah-langkah di atas.
Pengobatan khusus mungkin
tidak dibutuhkan penderita SLE dengan gejala ringan, tetapi mereka umumnya
tetap memerlukan obat-obatan untuk menangani gejalanya. Berikut adalah
obat-obatan yang mungkin dibutuhkan oleh penderita SLE.
b) Obat
anti inflamasi nonsteroid
Nyeri sendi atau otot
merupakan salah satu gejala utama SLE. Dokter mungkin akan memberi obat anti
inflamasi nonsteroid untuk mengurangi gejala ini.
Obat anti inflamasi
nonsteroid adalah pereda sakit yang dapat mengurangi inflamasi yang terjadi
pada tubuh. jenis obat yang umumnya diberikan dokter pada penderita SLE
meliputi ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxicam.
Jenis obat ini (terutama
ibuprofen) sudah dijual bebas dan dapat mengobati nyeri sendi atau otot yang
ringan. Tetapi Anda membutuhkan obat dengan resep dokter jika mengalami nyeri
sendi atau otot yang lebih parah.
Penderita SLE juga
sebaiknya waspada karena obat ini tidak cocok jika mereka sedang atau pernah
mengalami gangguan lambung, ginjal, atau hati. Obat ini juga mungkin tidak
cocok untuk penderita asma.
Selain itu, anak-anak di
bawah 16 tahun sebaiknya tidak meminum aspirin. Konsultasikan kepada dokter
untuk menemukan obat anti inflamasi nonsteroid yang cocok untuk Anda.
Konsumsi obat anti
inflamasi nonsteroid dosis tinggi atau jangka panjang dapat mengakibatkan
pendarahan dalam karena rusaknya dinding lambung. Karena itu, dokter akan
memantau kondisi penderita SLE yang harus mengkonsumsinya untuk jangka panjang
dengan cermat. Jika komplikasi ini memang terjadi, dokter akan menganjurkan
pilihan lain.
c) Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat
mengurangi inflamasi dengan cepat dan efektif. Obat ini biasanya diberikan oleh
dokter jika penderita SLE mengalami gejala atau serangan yang parah.
Untuk mengendalikan
gejala serta serangan, tahap awal pemberian obat ini mungkin akan berdosis
tinggi. Lalu dosisnya diturunkan secara bertahap seiring kondisi penderita yang
membaik.
Kortikosteroid selalu
diberikan dengan dosis terendah yang efektif. Dosis tinggi serta konsumsi
jangka panjang obat ini dapat menyebabkan efek samping yang meliputi penipisan
tulang, penipisan kulit, bertambahnya berat badan, dan peningkatan tekanan
darah tinggi.
Cara meminimalisir efek
samping steroid adalah dengan menyesuaikan dosis steroid dengan aktivitas
penyakit sambil mengendalikannya secara efektif. Selama Anda mengikuti resep
dan diawasi oleh dokter, kortikosteroid termasuk obat yang aman untuk
digunakan.
d) Hydroxychloroquine
Selain pernah digunakan
untuk menangani malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa gejala
utama SLE, diantaranya:
·
Nyeri sendi dan otot
·
Kelelahan
·
Ruam pada kulit
Dokter spesialis umumnya
menganjurkan konsumsi obat ini untuk jangka panjang bagi penderita SLE.
Tujuannya adalah untuk:
·
Mencegah serangan yang parah
·
Mengendalikan gejala
·
Mencegah perkembangan komplikasi yang
lebih serius
Keefektifan
hydroxychloroquine biasa akan dirasakan penderita SLE setelah mengonsumsinya
selama 1,5-3 bulan.
Tetapi semua obat tetap
memiliki efek samping, termasuk hydroxychloroquine. Di antaranya adalah
gangguan pencernaan, diare, sakit kepala, dan ruam pada kulit.
Obat ini juga memiliki
efek samping yang lebih serius, tetapi sangat jarang terjadi. Contohnya
diperkirakan terdapat risiko 1:2000 di Antara penderita SLE yang mengonsumsi
obat ini yang mungkin mengalami kerusakan mata. Karena sangat jarang,
pemeriksaan mata secara umum tidak diharuskan untuk semua penderita lupus yang
mengonsumsi obat ini.
Segera konsultasikanlah
kepada dokter jika Anda mengalami gangguan penglihatan selama mengonsumsi
hydroxychloroquine.
e) Obat
imunosupresan
Cara kerja obat ini
adalah dengan menekan kinerja system kekebalan tubuh. ada beberapa jenis
imunosupresan yang biasanya diberikan dengan resep dokter, yaitu azathioprine,
,ucophenolate mofetil, dan cyclophosphamide.
Imunosupresan akan
meringankan gejala SLE dengan membatasi kerusakan pada bagian-bagian tubuh yang
sehat akibat serangan system kekebalan tubuh. obat ini juga terkadang diberikan
bersamaan dengan kortikosteroid. Jika dikombinasikan, keduanya dapat
meringankan gejala SLE dengan lebih efektif. Penggunaan imunosupresan juga
kemungkinan dapat mengurangi dosis kortikosteroid yang dibutuhkan penderita.
Imunosupresan termasuk
obat yang sangat keras dan dapat menyebabkan efek samping sebagai berikut:
muntah, kehilangan nafsu makan, pembengkakan gusi, diare, kejang-kejang, mudah
lebam atau berdarah, sakit kepala, bertambahnya berat badan, pertumbuhan rambut
berlebihan.
Karena itu, obat ini
biasanya diberikan dengan resep dokter hanya untuk penderita SLE yang mengalami
gejala atau serangan yang parah. Segera konsultasikan kepada dokter jika ada
efek samping yang terasa lebih mengganggu daripada manfaatnya. Dosis Anda
mungkin perlu disesuaikan.
Tiap jenis imunosupresan
menyebabkan efek samping yang berbeda-beda. Misalnya mycophenolate dan
cyclophocphamide dapat menyebabkan cacat lahir. Karena itu, penderita SLE
wanita yang menggunakan kedua jenis obat ini dan aktif secara seksual
dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang terjamin keampuhannya.
Bagi penderita SLE wanita
yang berniat untuk punya anak. Anda dianjurkan untuk memilih obat lain
(misalnya azathioprine). Anda juga dianjurkan untuk mengonsultasikan terlebih
dulu kepada dokter spesialis.
Kehamilan sebaiknya
direncanakan pada saat gela SLE Anda berkurang (masa remisi). Pemantauan
seksama dari sokter spesialis serta dokter kandungan selama masa kehamilan
berlangsung juga sangat penting. Risiko terjadinya infeksi akan meningkat
seiring dengan kinerja system kekebalan tubuh yang ditekan. Segera hubungi
dokter jika Anda mengalami gangguan gejala infeksi karena Anda mungkin
membutuhkan penanganan secepatnya untuk mencegah komplikasi yang serius.
Gejala infeksi terkadang
mirip dengan serangan lupus dan meliputi:
·
Serangan batuk yang disertai dahak atau
nafas terengah-engah
·
Demam tinggi (38C atau lebih)
·
Sensasi terbakar yang terasa saat buang
air kecil
·
Kencing darah (hematuria)
Hindarilah kontak dengan
orang yang sedang mengalami infeksi seringan apapun atau walau Anda sudah
memiliki kekebalan tubuh terhadap infeksi tersebut misalnya cacar air atau
campak. Penularan tetap mungkin terjadi karena kinerja system kekebalan tubuh
Anda sedang menurun karena ditekan oleh obat imunosupresan.
Imunosupresan juga dapat
menyebabkan kerusakan pada hati. Karena itu, Anda membutuhkan pemeriksaan
kesehatan dan tes darah secara rutin selama menggunakan imunosupresan.
f) Rituximab
Jika obat-obat lain tidak
mempan bagi penderita SLE, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat ini
termasuk jenis baru dan awalnya dikembangkan untuk menangani kanker darah
tertentu, misalnya limfoma. Tetapi rituximab terbukti efektif untuk menangani
penyakit autoimun, seperti SLE dan artritis rheumatoid.
Cara kerja rituximab
adalah dengan mengincar dan membunuh sel B. ini adalah sel yang memproduksi
antibody yang menjadi pemicu gejala SLE. Obat ini akan dimasukkan melalui infus
yang akan berlangsung selama beberapa jam. Selama proses pengobatan ini
berlangsung, kondisi Anda akan dipantau dengan cermat.
Efek samping yang umum
dari rituximab meliputi pusing, muntah, dan gejala yang mirip flu (misalnya
menggigil dan demam tinggi selama pengobatan berlangsung). Efek samping lain
yang mungkin terjadi (meski sangat jarang) adalah reaksi alergi. Reaksi ini
umumnya muncul selama pengobatan berlangsung atau tidak lama setelahnya.
F. Komplikasi
SLE
yang ringan atau terkendali dengan baik biasa tidak terlalu menghambat
rutinitas sehari-hari penderitanya. Risiko komplikasi juga mungkin akan
menurun.
Seiring
bertambahnya usia, gejala SLE mungkin akan banyak berkurang. Penderita SLE yang
berusia di atas 50 tahun umumnya mengalami hal ini. Diantara penderita SLE
wanita juga ada sebagian yang mengku kondisinya membaik setelah mengalami masa
menopause. Tetapi anda harus tetap waspada jika menderita SLE. Risiko munculnya
kondisi serius dan komplikasi yang mematikan tetap ada.
a) SLE
dan komplikasi penyakit kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular
adalah istilah umum untuk semua jenis penyakit yang menyerang jantung dan
pembuluh darah, seperti stroke, serangan jantung, dan tekanan darah tinggi.
Selain itu, beberapa penderita SLE juga bisa mengalami radang pada kantung yang
membungkus jantung (pericarditis) atau pada otot-otot jantung (miokarditis).
SLE dapat menyebabkan
inflamasi pada jantung dan pembuluh darah. Karena itu, penderita SLE
diperkirakan memiliki risiko 6-8 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit
kardiovaskular. Risiko ini dapat dikurangi melalui langkah-langkah berikut:
·
Berolahraga secara teratur. Setidaknya 2,5
jam dalam seminggu dengan jenis olahraga yang dapat membuat nafas Anda sedikit
terengah-engah.
·
Menjaga berat badan yang ideal dan sehat
·
Menerapkan pola makan yang sehat dan
seimbang. Misalnya makanan rendah lemak jenuh, rendah gula, rendah garam,
banyak buah, dan sayuran setidaknya lima porsi dalam sehari.
·
Berhenti merokok
·
Membatasi konsumsi minuman keras.
b) SLE
dan komplikasi nefritis lupus
Inflamasi yang terjadi
pada ginjal untuk waktu yang lama akibat SLE memiliki potensi untuk menyebabkan
penyakit ginjal yang serius. Komplikasi ini disebut nefritis lupus.
Diperkirakan sekitar 50%
di antara penderita SLE yang mengidap nefritis lupus. Penyakit ini juga
cenderung berkembang pada tahap awal SLE (biasanya dalam lima tahun pertama).
Tes darah biasanya akan dianjurkan untuk memantau kondisi ginjal Anda secara
seksama. Beberapa gejala lupus nefritis meliputi:
·
Rasa gatal
·
Sakit dada
·
Mual
·
Muntah
·
Sakit kepala, pusing
·
Sering buang air kecil
·
Kencing darah
·
Pembengkakan pada kaki
Nefritis lupus sering
tidak menunjukan gejala, tetapi Anda sebaiknya tetap waspada. Komplikasi ini
sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.
Tekanan darah tinggi juga
dapat disebabkan oleh penyakit ini. Jika tidak ditangani, tekanan darah tinggi
akan mempertinggi risiko penyakit jantung yang serius (misalnya, serangan
jantung atau angina).
Penanganan untuk lupus
nefritis dapat dilakukan dengan imunosupresan, misalnya azathioprine,
mycophenolate mofetil, atau cyclophosphamide.
c) Risiko
penyakit autoimun yang lainnya
Tingkat risiko penderita SLE yang dapat mengidap
penyakit autoimun lain diperkirakan sekitar 30%. Di antaranya adalah penyakit
tiroid, sindrom Sjogren, atau sindrom Hughes (sindrom antifosfolipid).
d) Sindrom
Sjogren pada penderita SLE
Sindom Sjigren dapat terjadi pada sekitar 12%
penderita SLE. Penyakit ini menyerang dan merusak kelenjar liur dan air mata.
Gejala utama pada kelainan system kekebalan tubuh ini adalah mata dan mulut
yang kering.
e) Sindrom
Hughes (sindrom antifosfolipid) pada penderita SLE
Sindrom Hughes dapat mempertinggi risiko terjadinya
penggumpalan darah pada arteri dan vena. Penggumpalan darah pada arteri dapat
menyebabkan stroke dan serangan jantung. Sedangkan jika terjadi pada vena,
penggumpalan darah dapat mengakibatkan thrombosis vena dalam. Penyakit ini juga
berbahaya bagi ibu hamil karena dapat mempertinggi risiko komplikasi selama
masa kehamilan.
Diagnosis untuk sindrom Hughes para penderita SLE
dapat dilakukan dengan memeriksaa keberadaan:
·
Komplikasi yang berhubungan dengan
pembuluh darah dan/atau kehamilan
·
Antibody antifosfolipid dalam darah
f) SLE
dan kehamilan
SLE biasanya memang tidak memengaruhi kesuburan
(fertilitas). Tetapi penderita SLE wanita (terutama yang mengidap sindrom
Hughes) sebaiknya tetap waspada karena komplikasi umumnya terjadi pada masa
kehamilan mereka. Di antaranya adalah pre-eklampsia, kelahiran premature,
keguguran, dan kelahiran mati.
Dokter biasanya akan menganjurkan obat-obatan untuk
mengurangi kecenderungan penggumpalan darah. Penanganan dengan aspirin dan
suntikan heparin dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan untuk pasien sindrom
Hughes.
Risiko lain yang mungkin terjadi adalah serangan
gejala lupus pada masa kehamilan, misalnya:
·
Pembengakakan pada kaki dan tangan
·
Rambut rontok
·
Wajah memerah
·
Nyeri otot, tulang, dan sendi
Obat-obatan yang kualitasnya terjamin tidak akan
memengaruhi ibu serta bayi. Tetapi ada beberapa jenis obat yang dinilai aman
digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya serangan SLE pada masa kehamilan.
Di antaranya adalah hydroxychloroquine (obat anti-malaria), azathioprine
(imunosupresan), dan prednisolone (kortikosteroid).
Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk
menunda kehamilan agar mengurangi risiko komplikasi pada masa kehamilan. Anda
biasanya diminta untuk menunggu selama enam bulan tanpa mengalami serangan SLE dan memiliki
tingkat fungsi ginjal yang normal atau mendekati normal sebelum hamil.
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A.
Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesis
riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah,
nyeri, demam, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta
citra diri pasien.
2. Kulit,
ruam erythematosus, plak erythematosus pada kulit muka atau leher.
3. Kardiovaskular
friction rubperikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura. Lesi
erythematosus papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan
vaskuler terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor
lengan bawah atau sisi lateral tangan.
4. System
musculoskeletal, pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika
bergerak.
5. System
integument. Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu
yang melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi
atau palatum durum.
6. System
pernafasan. Pleuritis atau efusi pleura.
7. System
vaskuler. Inflamasi pada arteriol terminalis yang menimbulkan lesi papuler,
erythematosus dan purpura di ujung kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor
lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.
8. System
renal. Edema dan hematuria.
9. System
saraf. Sering terjadi depresi dan psikosis, atau manisfestasi SPP lainnya.
B.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan bagi penderita LES adalah sebagai
berikut:
a. Nyeri
kronik berhubungan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan
b. Gangguan
kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit dan lesi
c. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan komplikasi sekunder terhadap LES
C.
Intervensi Keperawatan dan Rasional
Tindakan
Intervensi keperawatan dan rasional tindakan yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Nyeri
kronik berhubungan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam
diharapkan pasien dapat : mengungkapkan keluhan/hilangnya berkurangnya nyeri,
menunjukkan posisi eskpresi wajah rileks, dapat beristirahat dan mendapatkan
pola tidur yang adekuat.
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Pertahankan suhu
lingkungan nyaman, berikan lampu penghamngat, penutup tubuh hangat.
|
Sumber panas eksternal
perlu untuk mencegah menggigil.
|
|
2
|
Kaji keluhan nyeri.
Perhatikan lokasi/karakter dan intensitas (skala 0-10).
|
Nyeri hampir selalu ada
pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan/kerusakan tetapi
biasanya paling berat selama penggantian balutan dan debridemen.
|
|
3
|
Lakukan penggantian
balutan dan debridemen setelah pasien diberi obat dan/atau pada hidroterapi.
|
Menurunkan terjadinya
distress fisik dan emosi sehubungan dengan penggantian balutan dan
debridemen.
|
|
4
|
Dorong ekspresi perasaan
tentang nyeri.
|
Pernyataan memungkinkan
pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping.
|
|
5
|
Dorong penggunaan
teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi.
|
Memfokuskan kembali perhatian,
meningkatkan relaksasi dan meningkatkan rasa control yang dapat menurunkan
ketergantungan farmakologis.
|
|
6
|
Berikan aktivitas
terapetik tepat untuk usia/kondisi.
|
Membantu mengurangi
konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan kembali perhatian.
|
|
(Gusti Pandi Liputo,
2012)
|
||
b) Gangguan
kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit dan lesi
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat menunjukkan
perilaku/teknik untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi dengan
kriteria: menjaga kebersihan di daerah lesi, memakai alat pelindung kulit yang
dapat menyebabkan iritasi atau infeksi berulang.
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Kaji
kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi, dan sensasi. Gambarkan
lesi dan amati perubahan.
|
Menentukan
garis dasar, menentukan di mana perubahan pada status dapat dibandingkan dan
melakukan intervensi yang tepat.
|
|
2
|
Pertahankan/instruksikan
dalam hygiene. Misalnya, membasuh dan kemudian mengeringkannya dengan berhati-hati
dan melakukan massage dengan menggunakan lotion atau krim.
|
Mempertahankan
kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barrier infeksi.
|
|
3
|
Gunting
kuku secara teratur
|
Kuku
yang panjang dan kasar meningkatkan risiko kerusakan dermal.
|
|
4
|
Tutupi
luka tekan yang terbuka dengan pembalut steril atau barrier protektif.
Misalnya, duoderm, sesuai petunjuk.
|
Dapat
mengurangi kontaminasi bakteri. Meningkatkan proses penyembuhan.
|
|
(Gusti Pandi Liputo,
2012)
|
||
c) Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan komplikasi sekunder terhadap LES
Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat melakukan
aktivitas dengan baik.
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Evaluasi
rutinitas harian pasien. Bantu perencanaan jadwal setiap hari untuk aktivitas
yang meliputi periode istirahat sering.
|
Istirahat
membantu menyeimbangkan energy tubuh. keseimbangan aktivitas fisik pada
istirahat membantu mengontrol kelelahan dan peningkatan ketahanan.
|
|
2
|
Anjurkan
pasien untuk menggunakan obat yang diresepkan untuk anemia.
|
Memungkinkan
periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
|
|
3
|
Tingkatkan
aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan rentang-rentang gerak sendi
aktif/pasif.
|
Tirah
baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan
aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
|
|
4
|
Dorong
penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, visualisasi,
bimbingan imajinasi. Berikan aktivitas hiburan yang tepat, contoh menonton
TV, mendengarkan radio, dan membaca.
|
Meningkatkan
relaksasi dan penghematan energy. Memusatkan kembali perhatian, dan dapat
meningkatkan koping.
|
|
(Gusti Pandi Lupito,
2012)
|
||
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit
lupus dalam ilmu kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE adalah
penyakit radang yang menyerang banyak
system dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan
disertai adanya antibody yang menyerang tubuhnya sendiri.
Penyakit
SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan
autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh
kombinasi Antara factor-faktor genetic, hormonal, dan lingkungan.
Pada
umumnya, penderita SLE yang tidak mengancam nyawa dan tidak berhubungan dengan
kerusakan organ vital dapat diterapi secara konservatif. Salah satu bagian dari
pengobatan SLE yang tidak boleh terlupakan adalah memberikan penjelasan kepada penderita mengenai penyakit yang
dideritanya, sehingga penderita dapat bersikap positif terhadap terapi yang
akan dijalaninya.
B. Saran
Dengan
adanya makalah ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca
khususnya mahasiswa untuk mendalami dan memahami tentang penyakit Lupus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar