Sabtu, 29 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan Dismenorhoe



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan social secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi. (Azwar, 2001).
Indonesia diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri selama haid. (Anomim,2008). Angka kejadian Dismenore tipe primer di Indonesia adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya adalah penderita dengan tipe sekunder.
Setiap bulan, secara periodik, seseorang wanita normal mengalami mentruasi. Di dalam mentruasi, terkadang disertai nyeri haid (Disminore). Disminore adalah nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit tumbul akibat kontraksi disritmik miomentrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari ringan  sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada sisi medial paha. (Nurmasitoh, 2008).
Beberapa tahun yang lalu, nyeri haid hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatik. Akan tetapi, karena keterbukaan informasi dan pesatnya ilmu pengatahuan berkembang, nyeri haid mulai banyak di bahas. Banyak ahli  yang telah menyumbangkan pikiran dan temuannya untuk mengatasi nyeri haid.
Dahulu, wanita yang menderita nyeri haid hanya bias menyembunyikan rasa sakitnya tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya dan kemana ia harus mengadu. Keadaan itu diperburuk oleh orang di sekitar mereka yang menganggap bahwa nyeri haid adalah rasa sakit yang dibuat-buat oleh wanita bahkan beberapa orang menganggap bahwa wanita yang menderita nyeri haid hanyalah wanita yang mencari perhatian atau kurang diperhatikan. Anggapan seperti ini sudah mulai hilang beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru di ketahui bahwa nyeri haid adalah  kondisi medis yang nyata yang diderita wanita. Banyak metode yang telah dikembangkan oleh ahli dibidangnya yang bertujuan untuk mengatasi nyeri haid.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahannya adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan Dismenore ?
2.      Apa saja Klasifikasi Dismenore ?
3.      Apa penyabab Dismenore ?
4.      Apa saja Tanda dan Gejala Dismenore ?
5.      Apa saja Pemeriksaan Penunjang untuk Dismenore ?
6.      Bagaimana Penatalaksanaan pada Dismenore ?
7.      Apa Komplikasi dari Dismenore ?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Dismenore ?
2.      Untuk mengetahui apa saja Klasifikasi Dismenore ?
3.      Untuk mengetahui apa penyabab Dismenore ?
4.      Untuk mengetahui apa saja Tanda dan Gejala Dismenore ?
5.      Untuk mengetahui apa saja Pemeriksaan Penunjang untuk Dismenore ?
6.      Untuk mengetahui bagaimana Penatalaksanaan pada Dismenore ?
7.      Untuk mengetahui apa Komplikasi dari Dismenore ?












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi
Dismenore (dysmenorrheu) berasal dari bahasa yunani. Kata dys yang berarti sulit, nyeri, abnormal : meno yang berarti bulan ; dan rrhea yang berarti aliran. Dismenore adalah kondisi medis yang terjadi sewaktu haid/menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas dan memerlukan pengobatan yang ditandai dengan nyeri atau rasa sakit di daerah perut maupun pinggul.
Dismenore adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai wanita tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur. Nyeri bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah, nyeri selama menstruasi yang di sebabkan oleh kejang otot uterus .Nyeri ini terasa di perut bagian bawah dapat terasa sebelum dan sesudah haid. Dapat  bersifat kolik atau terus menerus (Emirza Nur Wicaksono Januari 24, 2013)
Disminore adalah rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari. Derajat nyerinya bervariasi mencakup ringan (berlangsung beberapa saat dan masih dapat meneruskan aktivitas sehari-hari), sedang (karena sakitnya diperlukan obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi masih dapat melakukan pekerjaannya), berat (rasa nyerinya demikian beratnya sehingga memerlukan istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan rasa nyerinya. (Manuaba, 2008).
Menurut kamus kesehatan, dismenore adalah nyeri mentruasi yang mungkin disertai kram perut, kejang (spasme), dan nyeri punggung.
Dismenorea atau nyeri haid adalah gejala-gejala ginekologik yang paling sering dijumpai. Bahkan wanita-wanita dengan dismenorea cenderung untuk mendapat nyeri haid rekurens secara periodik yang menyebabkan pasien mencari pengobatan darurat (Greenspan, Baxter, 2000).
Dismenore (nyeri perut) yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. Disminore primer terjadi jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya (Maulana, 2009). Sementara menurut Maryanti Disminore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa ada kelainan, terapi yang diberikan dapat berupa konseling, pereda rasa nyeri dan terapi hormonal (Maryanti 2009).
Dismenorea merupakan menstruasi yang nyeri dan telah menyerang 30 % perempuan yang tidak ada dasar patologik di usia 20-25 tahun pada dismenorea primer dan ada penyakit patologik di usia 30-40 tahun pada dismenorea sekunder (Naylor, 2004).
Dismenore merupakan menstruasi yang menyakitkan khususnya sering terjadi di awal-awal masa dewasa (Maulana, 2009).
Dismenorea atau nyeri haid merupakan gejala, bukan penyakit. Gejalanya terasa nyeri di perut bagian bawah. Pada kasus dismenorea berat, nyeri terasa sampai seputaran panggul dan sisi dalam paha. Nyeri terutama pada hari pertama dan kedua menstruasi. Nyeri akan berkurang setelah keluar darah menstruasi  yang cukup banyak (Manuaba, 1999).

B.     Klasifikasi Dismenore
Berdasarkan jenis nyeri:
1.      Dismenorea Spasmodik,- Dismenorea spasmodik yaitu nyeri yang dirasakan dibagian bawah perut dan berawal sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai. Beberapa wanita yang mengalami dismenorea spasmodik merasa sangat mual, muntah bahkan pingsan. Kebanyakan yang menderita dismenorea jenis ini adalah wanita muda, akan tetapi dijumpai pula kalangan wanita berusia di atas 40 tahun yang mengalaminya (Mansjoer, 2001).
2.      Dismenorea Kongestif,- Dismenorea kongestif yaitu nyeri haid yang dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya haid. Gejala ini disertai sakit pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung, mudah tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha dan lengan atas. Gejala tersebut berlangsung antara dua atau tiga hari sampai kurang dari dua minggu sebelum datangnya menstruasi.
Berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat diamati, dismenorea dapat dibagi menjadi:
1.      Dismenorea Primer: Dismenorea primer yaitu nyeri haid yang timbul tanpa ada sebab yang dapat diketahui. Dismenorea primer terjadi sejak usia pertama kali datangnya haid yang disebabkan oleh faktor intrisik uterus dan berhubungan erat dengan ketidak seimbangan hormon steroid seks ovarium, yaitu karena produksi hormon prostaglandin yang berlebih pada fase sekresi yang menyebabkan perangsangan pada otot-otot polos endometrium (Badziad, 2003).
Keadaan di bawah ini akan meningkatkan risiko mengalami dismenorhea primer yaitu:
a.       Wanita yang merokok.
b.      Wanita yang minum alkohol selama menstruasi karena alkohol akan memperpanjang nyeri pada saat menstruasi.
c.       Wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas.
d.      Wanita yang tidak memiliki anak.
e.       Menarche dini (wanita yang pertama menstruasi sebelum umur 12 tahun).
f.       Mempunyai riwayat yang sama dalam keluarga.
2.      Dismenorea Sekunder,- Dismenorea sekunder terjadi karena adanya kelainan pada organ genetalia dalam rongga pelvis. Dismenorea ini disebut juga sebagai dismenorea organik, dapatan (akuisita) atau ekstrik. Kelainan ini dapat timbul setiap saat dalam perjalanan hidup wanita, contohnya pada wanita dengan endometriosis atau penyakit peradangan pelvik, penggunaan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim, dan tumor atau polip yang berada di dalam rahim. Nyeri terasa dua hari atau lebih sebelum menstruasi dan nyeri semakin bertambah hebat pada akhir menstruasi (Llewellyn, 2001).
Berdasarkan intensitas nyeri:
1.      Dismenorea ringan,- Dismenorea yang berlangsung beberapa saat dan klien masih dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari.
2.      Dismenorea sedang,- Dismenorea ini membuat klien memerlukan obat penghilang rasa nyeri dan kondisi penderita masih dapat beraktivitas.
3.      Dismenorea berat,- Dismenorea berat membuat klien memerlukan istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, migrain, pingsan, diare, rasa tertekan, mual dan sakit perut. (Manuaba, 1999).

C.    Etiologi Dismenore
Etiologi atau penyebab dari dismenore primer
1.      Faktor Psikologis
Biasanya terjadi pada remaja dengan emosi yang tidak stabil, mempunyai ambang nyeri yang rendah, sehingga sangat sedikit rasa nyeri dapat merasakan kesakitan
2.      Faktor Endokrin
Pada umumnya hal ini dihubungkan dengan kontraksi usus yang tidak baik. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pengaruh hormonal. Peningkatan produksi prostaglandin akan menyebabkan terjadinya kontraksi uterus  yang tidak terkoordinasi sehingga menimbulkan nyeri.
Dismenore Primer biasanya terjadi dalam 6-12 bulan pertama setelah menarche (haid pertama) segera setelah siklus ovulasi teratur (regular ovulatory cycle) ditetapkan/ditentukan. Selama menstruasi, sel-sel endometrium yang terkelupas (sloughing endometrial cells) melepaskan prostaglandin, yang menyebabkan iskemia uterus melalui kontraksi miometrium dan vasokonstriksi. Peningkatan kadar prostaglandin telah terbukti ditemukan pada cairan haid (menstrual fluid) pada wanita dengan dismenorea berat (severe dysmenorrhea). Kadar ini memang meningkat terutama selama dua hari pertama menstruasi. Vasopressin juga memiliki peran yang sama. Riset terbaru menunjukkan bahwa patogenesis dismenorea primer adalah karena prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium yang kuat (a potent myometrial stimulant) dan vasoconstrictor, yang ada di endometrium sekretori. Respon terhadap inhibitor prostaglandin pada pasien dengan dismenorea mendukung pernyataan bahwa dismenorea diperantarai oleh prostaglandin (prostaglandin mediated). Banyak bukti kuat menghubungkan dismenorea dengan kontraksi uterus yang memanjang (prolonged uterine contractions) dan penurunan aliran darah ke miometrium. Kadar prostaglandin yang meningkat ditemukan di cairan endometrium (endometrial fluid) wanita dengan dismenorea dan berhubungan baik dengan derajat nyeri.
Peningkatan endometrial prostaglandin sebanyak 3 kali lipat terjadi dari fase folikuler menuju fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut yang terjadi selama menstruasi. Peningkatan prostaglandin di endometrium yang mengikuti penurunan progesterone pada akhir fase luteal menimbulkan peningkatan tonus miometrium dan kontraksi uterus yang berlebihan. Leukotriene juga telah diterima (postulated) untuk mempertinggi sensitivitas nyeri serabut (pain fibers) di uterus. Jumlah leukotriene yang bermakna (significant) telah dipertunjukkan di endometrium wanita dengan dismenorea primer yang tidak berespon terhadap pengobatan dengan antagonis prostaglandin. Hormon pituitari posterior, vasopressin, terlibat pada hipersensitivitas miometrium, mereduksi (mengurangi) aliran darah uterus, dan nyeri (pain) pada penderita dismenorea primer. Peranan vasopressin di endometrium dapat berhubungan dengan sintesis dan pelepasan prostaglandin.
Etiologi Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder (secondary dysmenorrhea) dapat terjadi kapan saja setelah menarche (haid pertama), namun paling sering muncul di usia 20-an atau 30-an, setelah tahun-tahun normal, siklus tanpa nyeri (relatively painless cycles). Peningkatan prostaglandin dapat berperan pada dismenorea sekunder. Namun, secara pengertian (by definition), penyakit pelvis yang menyertai (concomitant pelvic pathology) haruslah ada. Penyebab yang umum termasuk: endometriosis, leiomyomata (fibroid), adenomyosis, polip endometrium, chronic pelvic inflammatory disease, dan penggunaan peralatan kontrasepsi atau IUD (intrauterine device). sejumlah faktor yang terlibat dalam patogenesis dismenorea sekunder.
Kondisi patologis pelvis berikut ini dapat memicu atau mencetuskan dismenorea sekunder :
1.      Endometriosis
2.      Pelvic inflammatory disease
3.      Tumor dan kista ovarium
4.      Oklusi atau stenosis servikal
5.      Adenomyosis
6.      Fibroids
7.      Uterine polyps
8.      Intrauterine adhesions
9.      Congenital malformations (misalnya: bicornate uterus, subseptate uterus)
10.  Intrauterine contraceptive device
11.  Transverse vaginal septum
12.  Pelvic congestion syndrome
13.  Allen-Masters syndrome

D.    Tanda dan Gejala
Dismenore dapat di tandai dengan gajala nyeri pada perut bagian bawah, nyeri  yang dirasakan sebagai kram yang timbul hilang atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada. Nyeri  mulai timbul sesaat sesudah atau selama haid, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai dengan sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih, dan kadang sampai menjadi muntah.

E.     Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk menunjang penegakan diagnosa bagi penderita dismenorea atau mengatasi gejala yang timbul diantaranya :
Pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik dismenorea:
1.      Cervical culture untuk menyingkirkan sexually transmitted diseases.  
2.      Hitung leukosit untuk menyingkirkan infeksi.
3.      Kadar human chorionic gonadotropin untuk menyingkirkan kehamilan ektopik.
4.      Sedimentation rate.
5.      Cancer antigen 125 (CA-125) assay: ini memiliki nilai klinis yang terbatas dalam mengevaluasi wanita dengan dismenorea karena nilai prediktif negatifnya yang relatif rendah.
6.      Laparoscopy
7.      Hysteroscopy 
8.      Dilatation
9.      Curettage
10.  Biopsi Endomentrium

F.     Penatalaksanaan
1.        Dismenore primer
a.       Latihan
1)        Latihan moderat, seperti berjalan atau berenang.
2)        Latihan menggoyangkan panggul.
3)        Latihan dengan posisi lutut di tekukkan ke dada, berbaring telentang atau miring.
b.      Panas
1)      Buli-buli panas atau botol air panas yang di letakkan pada punggung atau abdomen bagian bawah.
2)      Mandi air hangat atau sauna.
c.       Orgasme yang mampu menegakkan kongesti panggul.
Peringatan : Hubungan seksual tanpa orgasme, dapat meningkatkan kongesti panggul.
d.      Hindari kafein yang dapat meningkatkan pelepasan prostaglandin.
e.       Pijat daerah punggung, kaki atau betis.
f.       Istirahat.
g.      Mengonsumsi Makanan Sehat : Harus mengonsumsi makanan yang sehat, agar kandungan   protein dan vitamin di dalamnya bisa membantu pembentukan sel yang rusak dan mengatasi rasa nyeri. Beberapa makanan yang baik untuk di konsumsi yaitu, susu memiliki kandungan kalsium tinggi yang dapat menolong untuk mengurangi nyeri ketika haid. Selain meminum susu, kamu juga bisa mengonsumsi makanan yang berasal dari susu, seperti yoghurt atau keju.
Pisang mengandung vitamin B6 dan E  yang berfungsi untuk mengurangi nyeri pada saat haid.
Kacang - kacangan seperti kacang, kuaci dan kacang mete mengandung banyak magnesium. Selain membantu mengurangi nyeri, mangnesium juga bisa memperbaiki mood yang buruk, serta membantu mengurangi penyimpanan cairan di dalam tubuh.
Sarden adalah ikan yang memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik. Adanya kandungan asam lemak Omega-3 dalam ikan  bisa mengurangi kram ketika haid. Sama seperti susu, daging sarden juga kaya akan kalsium yang dapat mengurangi nyeri ketika haid.
Nanas adalah buah yang bisa membantu untuk mengatasi mood yang jelek, serta mengurangi penumpukan air di dalam tubuh.
h.      Obat-obatan
1)      Kontrasepsi oral menghambat ovulasi sehingga meredakan gejala
2)      Mirena atau progestasert AKDR dapat mencegah kram.
3)      Obat pilihan adalah ibuprofen, 200-250 mg, diminum peroral setiap 4-12 jam, tergantung dosis, namun tidak melebihi 600 mg dalam 24jam atau Asam Mefenamat 500 mg 3 kali sehari diberikan pada saat mulai menstruasi atau saat sakit dan dilanjutkan 2-3 kali.
4)      Aleve (natrium naproksen) 200mg juga bisa di minum peroral setiap 6 jam.
i.        Terapi Komplementer
1)      Biofeedback
2)      Akupuntur
2.        Dismenore sekunder
a.       PRP
1)      PRP termasuk endometritis, salpoingitis, abses tuba ovarium, atau peritonitis panggul.
2)      Organisme yang kerap menjadi penyebab meliputi Neisseria Gonnorrhoea dan C.thrachomatis, seperti bakteri gram negatif, anaerob, kelompok B streptokokus, dan mikoplasmata genital. Lakukan kultur dengan benar.
3)      Terapi antibiotik spectrum-luas harus di berikan segera saat diagnosis di tegakkan untuk mencegah kerusakan permanen (mis, adhesi, sterilitas). Rekomendasi dari center for disease control and prevention (CDC) adalah sebagai berikut :
a)        Minum 400 mg oflaksasin per oral 2 kali/hari selama 14 hari, di tambah 500 mg flagyl 2 kali/hari selama 14 hari.
b)        Berikan 250 mg seftriakson IM 2 g sefoksitin IM, dan 1g probenesid peroral di tambah 100 mg doksisiklin per oral , 2 kali/hari selama 14 hari.
c)        Untuk kasus yang serius konsultasikan dengan dokter spesialis mengenai kemungkinan pasien di rawat inap untuk di berikan antibiotik per IV.
4)        Meskipun efek pelepasan AKDR pada respons pasien terhadap terapi masih belum di ketahui, pelepasan AKDR di anjurkan.
b.      Endometriosis
1)      Diagnosis yang jelas perlu di tegakkan melalui laparoskopi
2)      Pasien mungkin di obati dengan pil KB, lupron, atau obat-obatan lain sesuai anjuran dokter.
c.       Fibroid dan polip uterus
1)      Polip serviks harus di angkat
2)      Pasien yang mengalami fibroleomioma uterus simtomatik harus di rujuk ke dokter.
d.      Prolaps uterus
1)      Terapi definitive termasuk histerektomi
2)      Sistokel dan inkontinensia strees urine yang terjadi bersamaan dapat di ringankan dengan beberapa cara berikut :
a)         Latihan kegel.
b)        Peralatan Pessary dan introl untuk reposisi dan mengangkat kandung kemih.

G.    Komplikasi
Rasa sakit yang parah dan mengganggu aktivitas normal.


















BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Riwayat
1.      Riwayat menstruasi
a.        Awitan menarke
b.       Awitan dismenore yang berkaitan dengan minarke
c.       Frekuensi dan keteraturan siklus
d.      Lama dan jumlah aliran menstruasi
e.       Hubungan antara dismenore dengan siklus dan aliran menstruasi.
2.      Deskripsi nyeri
a.       Awitan yang terkait dangan masa menstruasi
b.      Rasa kram spasmodic atau menetap
c.       Lokasi menyeluruh atau spesifik
d.      Unilateral atau seluruh abdomen bagian bawah
e.       Lokasi pada abdomen bagian bawah, punggung atau paha.
f.       Memburuk saat palpasi atau bergerak
3.      Gejala yang berkaitan
a.       Gejala ekstragenetalia
b.      Dispareunia- konstan atau bersiklus yang berhubungna dengan silus menstruasi.
4.       Riwayat obstetri-paritas
5.      Pemasangan AKDR
6.      Riwayat kondisi yang mungkin mengakibatkan dismenore sekunder.

B.     Pemeriksaan fisik
1.      Pencatatan usia dan berat badan
2.      Pemeriksaan speculum
a.       Observasi ostiumm uteri untuk mendeteksi polip.
b.      Catat warna atau bau yang tidak biasa dari rabas vagina , lakukan pemeriksaan sediaan basah.
c.       Persiapkan uji kultur serviks, kultur IMS, dan uji darah bila perlu, berdasarkan riwayat pasien.
3.      Pemeriksaan bimanual
a.        Catat nyeri tekan akibat gerakan serviks
b.       Catat ukuran bentuk dan konsestensi uterus, periksa adanya fibroid.
c.       Catat setiap masa atau nodul pada adneksa, terutama nyeri unilateral.
d.      Catat bila terdapat sistokel atau prolaps uterus.

C.    Diagnosa Keperawatan
1.       Nyeri akut b/d gangguan menstruasi (dismenore)
2.      Intoleransi aktifitas b/d kelemahan umum
3.      Ansietas b/d perubahan status kesehatan
4.      Kurang pengetahuan tentang proses terjadinya dismenore b/d kurang informasi.
D.    Intervensi
1.      Nyeri akut b/d gangguan menstruasi (dismenore)
Tujuan:
Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan nyeri  pasien berkurang
Kriteria Hasil:
a.       Nyeri berkurang.
b.      Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri, skala nyeri ringan.
Intervensi
Rasional
a.  Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

b.  Ajarkan penggunaan kompres hangat.



c.  Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
d. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

e.  Lakukan pijatan punggung bawah.





f.   Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
g.  Anjurkan menurunkan masukan sodium selama seminggu sebelum mens.
h.  Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.



i.    Observasi ulang tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan  perawatan selama 1 - 2 hari.
j.    Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik. Kolaborasi pemberian obat seperti penghambat sintesa prostaglandin ( PGSI), ibuprofen ( Motrin), naproxen sodium ( Anaprox) dan ibuprofen setidaknya 48 jam sebelum terjadi menstruasi.
a.  Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
b.  Meringankan kram abdomen. Panas bekerja dengan pedoman  meningkatkan vasodilatasi dan otot relaksasi,saat menurnnya iskemic uterus.
c.  Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya

d. Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
e.  Mengurangi nyeri dengan relaksasi otot vertebra dan menigkatkan suplai darah.  Banyak perempuan yang mengdapatkan hal positif dengan yoga, biofeedback, meditasi, dan relaksasi therapy.
f.   Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkn kenyamanan.


g.  Mengurangi resiko retensi cairan.

h.  Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat        membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
i.    Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk  mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

j.    Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. Kontrasepsi oral dapat diberikan jika klien menginginkan kontrasepsi sebagai pembebasan nyeri.OC's mencegah ovulasi, menurunkan jumlah darah haid, yang mengurangi jumlah prostaglandin dan dysmenorrhea.      
2.      Intoleransi aktifitas b/d nyeri dismenore.
Tujuan:
Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan Ps  menunjukan perbaikan toleransi aktifitas
Kriteria Hasil:
Pasien dapat melakukan aktifitas
Intervensi
Rasional
a.  Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat lelah,    berikan istirahat yang cukup
b.  Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam



c.  Observasi ulang tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.
a.     Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan.

b.     istirahat cukup dan tidur cukup menurunkan kelelahan dan meningkatkanresistensi terhadap infeksi

c.     Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang  obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.
3.      Ansietas b/d ineffektif koping individu.
Tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan kecemasan menurun
Kriteria Hasil:
Pasien tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya.
Intervensi
Rasional
a.       Jelaskan prosedur yang diberikan dan ulangi dengan sering
b.      Anjurkan orang terdekat berpartisipasi dalam asuhan
c.       Anjurkan dan berikan kesempatan pada pasien untuk mengajukan pertanyaan dan menyatakan masalah
d.      Singkirkan stimulus yang berlebihan
e.       Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing.

f.       Informasikan tentang perawatan, dan pengobatan.
g.      Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
h.      Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor dismenor



i.        Kolaborasi dengan psikiatri


j.        Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
a.       Informasi memperkecil rasa takut dan ketidaktauan
b.      Meningkatkan perasaan berbagi


c.       membuat perasaan terbuka dan bekerja sama
Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
d.      Memberi lingkungan yang lebih tenang
e.       Pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan
f.       menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya
g.      Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikansebagai ketakutan/ansietas.

h.      Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
i.        membantu mengatasi masalah pada pasien yang kronis dan koping maladaftif
j.        Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
4.      Kurang pengetahuan tentang proses terjadinya dismenore b/d kurang informasi.
Tujuan:
Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan Pasien tahu, mengerti, dan patuh dengan program terapeutik
Kriteria Hasil:
Pasien mengerti tentang penyakitnya dan apa yang mempengaruhinya.
Intervensi
Rasional
a.  Bantu pasien mengerti tentang tujuan jangka pendek dan jangka panjang
b.  Ajarkan pasien tentang penyakit dan perawatannya.


c.  Berikan dukungan emosional.

d. Libatkan orang terdekat dalam program pengajaran, sediakan materi pengajaran/instruksi tertulis.
a.       Menyiapkan pasien untuk mengatasi kondisiserta memperbaiki kualitas hidup
b.      Mengajarkan pasien tentang kondisinya adalah salah satu aspek yang paling penting dari perawatannya.
c.       Memudahkan klien agar bersikap positif.
d.      Membantu meningkatkan pengetahuan dan memberikan sumber tambahan untuk referensi perawatan di rumah.


BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dismenore adalah perasaan nyeri pada waktu haid dapat berupa kram ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan dalam tugas sehari-hari. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu dismenorre primer dan dismenorre sekunder. Faktor endokrin, kelainan organik, faktor alergi, faktor kejiwaan atau psikis seseorang juga sangat mempengaruhi terjadinya Dismenore.

B.     Saran
Diharapkan dengan hadirnya makalah ini bisa menambah pengetahuan mengenai penyakit Dismenore.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar